Selasa, 12 Juni 2018

Cara Mudah Pencarian Tempat, Temukan di Aplikasi Cari Aja

Halo, apa kabar? sehat semangat ya?. Pernah tidak, kamu amati saat ini, hampir setiap ornag menyukai jalan-jalan dan kuliner? entah itu anak muda, orang tua, laki-laki, perempuan. Ya, sebagian masyarakat kita saat ini banyak yang gemar travelling dan kulineran.

Coba saja perhatikan medsos d sekelilinmu, baik itu Facebook, instagram atau yang laiinnya, banyak banget yang mengunggah foto maupun tulisan tentang kuliner dan travelling.

Minggu, 03 Juni 2018

Emeron Soft and Smooth, Bikin Rambut Sehat dan Lembut

Bagi perempuan, rambut adalah segalanya, bahkan ada pepatah atau ungkapan bahwa rambut adalah mahkota. Mahkota adalah simbol kecantikan, keindahan, mahkota juga simbol pada sesuatu yang harus dijaga, dirawat dengan baik.

Sama juga dengan mahkota, rambut memang sebaiknya dijaga, dirawat dengan tepat karena kalau salah melakukan perawatan rambut akan rusak. 

Kebanyakan perempuan pastilah menjaga rambutnya sebisa mungkin, bahkan bukan hanya supaya rambut sehat saja, namun rambut juga akan indah jika dirawat dengan benar.

Kamis, 31 Mei 2018

Sambut Bulan Suci Dengan Menu Ramadan HokBen

Bulan Ramadan, adalah bulan berkah, siapapun ingin mendapatkan berkah di bulan suci ini. Kenapa? karena bulan ramadan bulan istmewa yang menyediakan berbagai kebaikan di dalamnya. 

Hokben juga dong, nggak mau ketinggalan menyambut bulan penuh berkah ini, salah satunya dengan menggelar buka bersama dengan anak yatim. 

Seneng rasanya kali ini aku dapat kesempatan gabung di acara istimewa ini, yaitu di HokBen Bogor jalan Pajajaran.

Rabu, 30 Mei 2018

Kuliner Bogor Terkini, Nasi Uduk Ayam Bakar Waroenk Talubi

Pernahkah merindukan masakan yang pernah tersaji di masa lalu kita? masa kecil, masa kanak-kanak kita? apakah punya makanan kerinduan yang ingin kita makan saat kita sudah dewasa? Pernahkah kita ingin sekali menyajikan makanan itu di hadapan kita?

Aku pernah dong, bahkan sering. Ya, aku sering sekali merindukan masakan ibuku yang aku makan saat aku masih kanak-kanak. Lalu, apa yang aku lakukan? ya aku masak lah.

Aku masak masakan yang aku pengini itu, sebisa aku. Mungkin tak seenak atau tak selezat dahulu ketika aku kecil, karena kan aku nggak tau kalau harus tanya resepnya ke ibuku, hehehe.

Selasa, 29 Mei 2018

Prive Uri-Cran, Cara Enak Atasi Anyang-anyangan

Kamu pernah anyang-anyangan? Jangan deeh, kalau bisa jangan pernah alami deh, karena sangat nggak enak, sakit, perih dan nyiksa banget. Yah, nyiksa banget karena anyang-anyangan itu pengin banget buang air, tapi keluar sedikit-sedikit.

Air seni keluar sedikit-sedikit, karena kondisi seperti ini biasanya berulang setiap beberapa menit, dengan rasa nyeri yang sangat di organ kewanitaan bagian dalam, jadi yang ada hanya kebingungan.

Kamis, 24 Mei 2018

Cara Aman Berhaji Dengan Asuransi Bebas Tawakkal

Kalimat  "Jangan pergi kemana-mana, sebelum pergi ke baitullah" aku baca di sebuah brosur saat acara Gathering Blogger tanggal 23 Mei 2018, kalimat yang bikin baper, bener.

Bagaimana tidak, siapa sih muslim yang nggak pengin ke tanah suci? kayanya nggak ada, karena bersujud di tanah suci menjadi impian semua muslim, menginjakkan kaki di tanah Rosul itu menjadi harapan semua muslim aku juga dong.

Tapi kamu juga tau kan, jika ibadah di tanah suci itu adalah selain ibadah spiritual, juga ibadah fisik dan finansial. Artinya apa? untuk pergi ke tanah suci baik berhaji maupun umrah membutuhkan fisik yang prima, sehat dan tidak berpenyakit.

Sabtu, 19 Mei 2018

Cinta yang Terencana, Demi Keluarga Berkualitas

Halo, masih ada yang kenal atau ingat lagu ini?



Harta yang paling berharga 
Adalah keluarga
Istana yang paling indah 
Adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna
Adalah keluarga
Mutiara tiada tara
Adalah keluarga

Lagu yang pernah populer itu melukiskan, bahwa keluarga adalah sebuah harta yang paling bermakna, bahkan tak terniai harganya. 

Lalu, sejenak kita ingat kasus bom bunuh diri yang menghentak nalar dan hati kita --aku masih sedih kalau ingat akan tragedi ini--, dimana diduga pelakunya adalah sebuah keluarga.

Tragedi ini makin membuat aku sedih banget, karena salah satu pelaku bom bunuh diri itu perempuan, ya perempuan yang identik dengan kelembutan, kasih sayang, welas asih. 

Bukan hanya itu saja, perempuan itu juga mengajak anak-anaknya untuk ikut serta menjadi bomber, sampai saat inipun rasanya masih tidak percaya. muncul pertanyaan, kok bisa? kok tega?.

Tragedi itu membuat aku merenung? keluarga macam apa ya mereka/ kok begitu mudahnya mempertaruhkan nyawa? bahagia atau tidak bahagiakah keluarga mereka?


Keluarga dan masyarakat


Aku bukan akan membahas tentang mereka itu, tapi tragedi itu mau tak mau membuatku merenung kembali tentang arti dan makna sebuah keluarga, mengingat keluara adalah unit terkecil dari sebuah sistim sosial.

Senang sekali, aku bisa gabung di even Blogger yang membincang tentang keluarga yang berkualitas, penyelenggaranya kerjasama BKKBN dengan Blogger Plus Community.

Nara sumber acara, adalah Ibu Eka Sulistya Adiningsih, ibu Roslina Verauli M/Psi, dan kakak Resi.

Dijelaskan banwa merah biru keluarga akan memberi kontribusi bagi negaranya, jadi kebahagiaan keluarga juga akan memberikan energi positif bagi negara.

Siapa sih yang tak ingin membangun keluarga bahagia? tak ada, pasti semua orang pengin membangun keluarga bahagia. Lalu mikir lagi nih, membangun keluarga bahagia, bisa disebut mudah, bisa juga tak mudah.

Membangun rumah tangga yang berkualitas adalah membangun keluarga yang harmonis, bahagia, mandiri secara mental material agar tidak menyusahkan lingkungannya.

Kalau kita ambil contoh sebuah keluarga yang melakukan bom bunuh diri di awal tulisan ini, tentu bisa kita katakan jika keluarga itu tidak memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di lingkungannya.


Nara sumber bersama MC


Semua asyik dengan handphonenya.



Pernah jatuh cinta?


Pernah jatuh cinta? jatuh cinta yang akhirnya bersatu dalam sebuah biduk rumah tangga?. Indahnya cinta ya, dan akan lebih indah lagi jika cinta itu adalah cinta yang terencana, sebagai fondasi yang kokoh bagi rumah tangga.

Cinta bisa membawa bahagia, bisa membawa bencana, ah yang bener? memang kan. Contoh cinta yang membawa bencana ketika menikah dalam usia yang masih dini.

Bagaimana nggak bawa bencana? nikah terlalu dini, belum pada saatnya hanya akan membawa bencana baik material, fisik, mental, psikologis.  Coba kita lihat beberapa ekses pada pernikahan yang terlalu dini.

  • Hilangnya kesempatan berkembang
    Karena menikah dini, ada kemungkinan bagi si pasanagn itu tidak mungkin melanjutkan pendidikan lagi, meskipun mungkin ada perkecualian. Maka individu dalam keluarga tersebut tidak berkembang, kurang pengetahuan yang akan bermanfaat untuk peningkatan kualitas keluarga
  • Kesehatan
    Jelas sekali, pernikahan dini akan  berpengaruh pada kesehatan pasangan, terutama perempuan. Organ reproduksi perempuan dibawah usia 17 tahun masih belum kuat untuk mengalami kehamilan dan melahirkan, Kemungkinan meninggal saat melahirkan menjadi lebih besar dibanding dengan mereka yang  menikah pada usia ideal.
  • Kemandirian finansial
    Pernikahan dini lebih banyak menggantungkan hidup pada keluarga masing-masing, tidak memiliki kemandirian finansial. Hal ini menyebabkan banyak masalah, seperti problem sosial.
  • Rentan KDRT
    Banyak kasus KDRT yang bermuara pada masalah ekonomi yang belum mencukupi, dan ini banyak dialami oleh mereka yang menikah dini.
Ditengarai, masih banyak terjadinya kasus pernikahan belum waktunya, atau pernikahan dini di sebagian wilayah di Indonesia, disebabkan oleh berbagai hal, baik masalah sosial maupun ekonomi.

Pernikahan dini, melahirkan sebuah rumah tangga atau keluarga yang tidak berkualitas. Seperi apakah keluarga yang berkualitas itu? seperti yang tercantum dalam UU nomor 52 Tahun2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Perkawinan, menjelaskan bahwa keluarga yang berkualitas adalah : Keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah dan bercirikan sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggungjawab, harmonis dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Cinta yang direncanakan


Merencanakan cinta, atau cinta yang direncanakan, itulah tema kampanye yang dilakukan oleh BKKBN , mengajak semua pihak, bahwa untuk membangun keluarga yang berkualitas, dibutuhkan cinta yang terencana.

Kenapa? aku sepakat dengan paparan ibu Eka Sulistya Ediningsih, Direktur Bina Ketahanan Remaja BKKBN RI, yang menyampaikan bahwa "Berkeluarga adalah fase terbesar dalam hidup setiap orang, sebab berkeluarga adalah menyatukan individu yang berbeda"

Kampanye tentang cinta yang direncanakan, bermaksud mengajak seluruh masyarakat untuk meneguhkan kembali pemahaman, betapa pentingnya peran keluarga bagi negara. Betapa sebuah keluarga yang berkualitas akan menjadi fondasi yang kokoh bagi negaranya.

Dari keluargalah akan lahir dan tumbuh manusia yang berwawasan positif, memiliki cinta pada diri sendiri dan sesama, memikirkan masa depannya dan mempunyai sikap yang produktif.

Keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang mandiri, produktif, saling berkomitmen untuk melakukan yang terbaik bagi diri dan lingkungan. Maka, dari keluarga-keluarga yang berkualitas, negara akan menjadi kuat, karena nilai-nilai positif dari dalam rumah yang dikembangkan di masyarakat.

Mengarahkan cinta dan merencanakan cinta dengan tepat, menurut Psikolog Roslina Verauli, M. Psi. akan membuahkan keluarga yang berkualitas, baik fisik ataupun mental. Beberapa hal yang mendukung terciptanya keluarga yang berkualitas adalah 
  • Menikah dengan usia ideal, yaitu usia diatas 20 tahun, karena dalam usia ini fisik maupun mental individu sudah siap.
  • Merencanakan jumlah anak, sekaligus masa depan anak, baik dari sisi finansial maupun mental
  • Merencanakan ketahanan keluarga dengan benar, ketahanan fisik, material, mental spiritual.
  • Memberdayakan keluarga dan interaksi sosial kemasyarakatan.
Ibu Roslina Verauli, M. Psi juga menyampaikan beberapa penjelasan tentang motif-motif menikah, meliputi motif positif dan motif negatif, hahaha, ternyata ada ya motif negatif orang nikah. termasuk motif positif adalah ingin memiliki teman hidup, keturunan, dan tentu saja karena cinta.

Nah, motif negatif ada motif mau numpang hidup, mau balas dendam, bahkan ada lho yang nikah cma biar bisa bayarin utang, wah keterlaluan kalau ini ya, hehe.

Jadi, yuk kampanyekan pada lingkunagn terdekat kita, jangan nikah terlalu dini, rencanakan keluarga dengan baik, karena keluarga yang berkualitas akan menjadi fondasi yang kokoh bagi negara.