Selasa, 20 Februari 2018

Menulis Dengan Cinta, Bersama Dini Fitria


Pernah nggak kamu bosan dan jenuh baca buku, atau novel atau apapun, bahkan mungkin baru kalimat pertama saja kamu sudah letakkan bacaan itu. Nggak enak dibaca, banyak kalimat mubadzirlah, atau mungkin bacaan itu nggak menceritakan apapun.

Sebaliknya, kamu punya penulis favorit kan? yang tulisannya atau bukunya selalu kamu tunggu kapan terbitnya, kapan mulai beredar, lalu akan kamu buru di toko-toko buku.

Kita senang kan ya kalau baca, penulisnya pinter bawakan isi tulisannya, terus tulisannya enaaak banget dibaca, bikin kita betah berlama-lama membacanya, mengulang lagi tanpa ada rasa bosan sedikitpun.

Bahkan kita akan balik lagi dan balik lagi untuk baca tulisan dari penulis yang sama, di waktu-waktu berikutnya.

Mungkin, itulah yang disebut menulis dengan cinta, sehingga kita yang bacapun juga tersentuh rasa kita. Lebih tepatnya menulislah dengan cinta, rasa cinta pada apa yang kita tulis.

Itulah ilmu yang aku dapatkan dari sekian banyak lainnya di acara Workshop bersama Dini Fitria. Menulis dengan cinta pada setiap postingan blog, akan menyenangkan bagi pembaca.

Aku merasa bersyukur, dan beruntung sekali bisa mengikuti workshop ini, kapan lagi aku bisa mencerahkan nalar dan hatiku tentang tulis menulis?. 

Perjalanan menulisku yang berubah-ubah, dari gaya bertutur, lalu menjadi penulis artikel, sekarang nulis blog, membuatku kesulitan merangkai tulisan dengan baik.

Jauh dalam hati, aku ingin kembali menulis dengan gaya bertutur atau sekarang populer dengan sebutan story telling. Kenapa? karena memang dahulu, aku menulis dengan gaya bertutur.

Even yang diselenggarakan oleh Komunitas ISB yang digawangi teh Ani Berta ini bagiku seperti oase yang sejuk di tengah gurun. Kenapa? karena tema menulis dengan cinta benar-benar menjadi penyejuk di tengah banyaknya tulisan blogger yang cenderung teknis, tanpa ruh.

Termasuk tulisanku sendiri, blog sudah nyaris seperti kumpulan artikel saja, makanya even ini jadi istmewa.

Selain Komunitas Indonesian Social Blogpreneur, even ini juga didukung penuh oleh C2Live, ZOYA, ZOYA Cosmetics, Sahfira, juga Kulina.

Dini Fitria & teh Ani Berta, fouder Komunitas ISB

Lalu, siapakah Dini Fitria? 

Dini Fitria, seorang author yang mengawali karirnya sebagai seorang jurnalis di salah satu televisi nasional. Posisinya sebagai produser sebuah acara yang membuatnya harus banyak berpetualang, membuat Dini memutuskan untuk menjadi penulis.

Dini sudah membuat tiga novel, yang ketiganya ditulis berdasarkan pengalaman hidup yang dijumpainya, misalkan apa yang dia lihat, dia rasakan, dengan dibumbui di sana sini, sehingga alur cerita mengalir dengan indah.

Ada kisah unik yang dituturkan oleh Dini, yaitu bagaimana pernah dia sangat benci negara India, disebabkan pengalamannya waktu masih menjadi jurnalis televisi, ditugaskan di India, di tahun 2011. 

Pengalaman Dini waktu itu adalah India yang kumuh, kotor, berisik, sumpek, bahkan diibaratkan seperti di neraka, sehingga Dini kapok, dan berjanji nggak akan ke India lagi.

Ternyata tahun 2016 Dini harus datang ke India lagi, dia merasakan sesuatu yang berbeda. Dalam renungannya, Dini merenung bahwa jika sudah mengerti dan menghargai orang-orang India, akan mudah untuk memahaminya.

Bagi Dini, menulis dengan hati wajib dilakukan, karena dengan itulah pembaca akan tersentuh, bahkan terinspirasi, dan tulisan itu membawa manfaat. Sesuai ajaran agama Islam, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Menulis dengan hati, menjadi spesial karena setiap manusia memiliki pengalaman batin yang tidak sama, persepsi yang tak sama terhadap pengalaman, akan membuahkan tulisan yang beda.

Menurut Dini, dia menikmati betul setiap tahapannya dalam menulis novel, misalnya observasi, riset, mencari dan mewawancarai nara sumber, tak lupa berbagai buku referensi juga dibutuhkan.

Setelah ditulis, bukupun masih melalui berbagai tahapan edit, revisi hingga buku tersebut terbit dan siap dibaca.

Salah satu novel karya Dini Fitria yang laris di pasaran adalah novel Islah Cinta, yang menceritakan tentang perjalanan cinta seorang Diva yang mengadakan liputan di Tanah Hindustan, atau India.

Novel ini bukan hanya menulis tentang cinta saja, melainkan berbagai hikmah, dan deskripsi tentang jejak sejarah islam, ditulis dengan detail di sana.

Membaca novel ini, serasa diajak jalan-jalan bener ke India, yang kaya dengan ragam budaya, di sisi lain juga menceritakan tentang hati seorang Diva yang terkoyak kembali, karena bertemu cinta lama yang pernah menorehkan luka.

Membaca novel ini benar-benar hanyut, larut dalam cerita, seolah menyaksikan sendiri, bagaimana makanan di India, karakter masyarakatnya, budayanya. 

Jika dalam beberapa novel yang aku baca, istilah asing biasanya masuk ke dalam catatan kaki, maka dalam novel ini tak ada catatan kaki. Karena dalam dialog maupun narasi pada novel ini, sudah menjelaskan arti dan makna dari bahasa atau istilah yang asing. 

Di mata aku, Dini Fitria sosok cerdas, dan punya kemampuan menularkan energi positif, karena penyampaian dia dari hati, itu yang aku rasakan. 

Meskipun sosoknya adalah figur yang cukup dikenal, sikap rendah hati, tidak membatasi diri, itu yang membuat energi positif kerasa nyambung, setidaknya ini pandangan pribadi aku.

Hasil gambar untuk novel islah cinta
Foto dari Goodreads

Bertutur lewat tulisan

Bagiku, tema menulis dengan hati adalah bagaimana bertutur dengan tulisan, bagaimana menulis kisah dengan bahasa yang menarik, ringan sehingga mudah dipahami. 

Story telling atau bertutur malalui tulisan membuat tulisan terasa hidup, lebih kuat, karena penulis benar-benar mengalami sendiri, kisah yang ditulisnya. Tentunya dengan dibumbui sedikit fiksi, maka tulisan bisa diolah menjadi tulisan yang menarik.

Bertutur melalui tulisan dikatakan berhasil bila sang pembaca bisa menikmati alur cerita, menangkap pesan moral, sekaligus merasa terhibur oleh tulisan itu, tulisan itu mampu menghadirkan emosi yang kuat. 

Menulis dengan hati, akan membuat penulis mampu mencurahkan segenap emosinya ke dalam tulisan, sehingga pembaca akan membaca dengan hati dan emosi pula. 

Hal inilah yang kemudian menghadirkan rasa di hati pembacanya, menumbuhkan simpati, empati, sayang, cinta, kebahagiaan, atau bahkan kesedihan. Bahkan pembaca akan dibuat ketagihan untuk membaca dan membaca lagi tulisan itu.

Story telling, atau features, atau menulis dengan bertutur, memiliki unsur:

  • Bertutur, menulis dengan mengalir
  • Deskriptif yaitu melukiskan dengan detail dan jelas tentang suasana, benda, peristiwa
  • Informatif
  • Gaya penulisan merupakan narasi yang indah, berbentuk prosa, imaninatif.
  • Tidak selalu terikat pada aturan 5 W + 1 H
  • Memiliki human of interest

Menurut Dini Fitria ada banyak tema yang bisa diangkat dalam tulisan, yang tema itu akrab dengan keseharian masyarakat. Tema cinta, jomblo, atau tentang susah kurus misalnya.

Maka, kata Dini Fitria, menulislah yang baik yaitu dengan
  • Menulis dengan cinta
  • Asah diri dengan banyak membaca, memperkaya diksi, mencari pengalaman.
  • Cinta itu akan menjadi ruh dalam tulisan, agar pembaca merasa terkesan, tergerak, terinspirasi.
  • Buatlah tulisan menjadi bermakna dengan menulis sesuatu yang spesial, beda dan menjadi sebuah pencerahan
  • Munculkan premis dalam menulis features, yaitu benang merah yang di dalamnya termuat emosi, dan mengikat alur demi alur cerita.
Kalau ditanya, apakah aku puas dengan acara ini? pasti belum lah, hehehe. Naluri manusia tak kenal puas, tapi aku bersyukur dan beruntung karena dengan ikut acara ini, menajdi semacam mengisi baterei, agar nyalanya lebih terang.

Semoga, aku bisa terus mengingatkan diri aku, untuk terus mengasah diri dengan berbagai cara, karena pengin banget bisa nulis dengan cara story telling.

Suasana break time


Foto bersama, usai acara




















46 komentar:

  1. Sharing dan kelas blogger yang bermanfaat ya mbak... Sebagai Blogger baru aku mendapatkan banyak ilmu baru

    BalasHapus
  2. Menulis secara story telling itu masih jadi keinginanku yang masih aku upayakan nih mba. Asiknya jika bisa menulis dengan cinta :)

    BalasHapus
  3. Keknya aku masuk ke story telling kali ya kalo nulis, soalnya sejadinya bahasa yang kelintas dan nyamannya berasa kaya ngomong sehari2 aja gitu.. Hehe . Biar ada ruh tulisan, menulis harua dengan cinta ya.. noted

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah, penginnya kaya ngobrol sehari-hari tapi masih dengan bahasa yang enak

      Hapus
  4. Iyeees, menulis memang harus dengan cinta agar terbaca rohnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kudu memperbanyak diksi ya, harus banyak baca

      Hapus
  5. pantesan muka narasumbernya familiar tapi liat dimana? ga taunya penulis Islah Cinta . Baca review teman-teman mengenai acara ini jadi mo ikutan juga, semoga di batch berikutnya kepilih

    BalasHapus
  6. Setuju kalau menulis itu sebaiknya dengan cinta. Juga diimbangin dengan banyak baca dan observasi, bila perlu research, supaya kosakata luas dan yg ditulis gak sempit. TFS

    BalasHapus
  7. Jadi pingin baca novelnya mba Dini.. Aku belum pernah baca nih.. Nulis dengan teknik bertutur memang perlu dipelajari ya mba, aku pun pingin bisa nulis kayak gitu, dengan happy dan cinta juga.. :)

    BalasHapus
  8. "Perjalanan menulisku yang berubah-ubah, dari gaya bertutur, lalu menjadi penulis artikel, sekarang nulis blog, membuatku kesulitan merangkai tulisan dengan baik". Ini juga udah bertutur Mbae... hahaha.. jago nih Mba Nefertite nulisnya. Waaah... salut! Saya masih perlu belajar banyak nih sama Mba Nefertite.

    BalasHapus
  9. Saya udah baca novel trilogi cinta nya Dini Fitria. Kalau baca novelnya, udah otomatis belajar diksi :)

    BalasHapus
  10. tipsnya menarik supaya bisa mengeluarkan ise tulisan yang apa adanya penulis atau gayanya tapi tetap informatif nih

    BalasHapus
  11. Menulis dengan cinta itu bener, sama kayak mencintai pekerjaan, jadi karena ikhlas, semuanya keliatan bagus hasilnya.

    BalasHapus
  12. Menulis ga hanya pakai tangan tetapi pakai segenap jiwa raga supaya tulisan makin memikat. Kudu belajar lagi nih aku.

    BalasHapus
  13. Mbaa...thanks tulisannya ya, inspiratif banget buat aku yg sedang belajar lagi untuk membuat tulisanku lebih baik^^. Jadi penasaran jg sama novelnya..ak belum baca..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mba Ria, aku juga masih belajar

      Hapus
  14. suka banget sama tulisannya mbak, benar mbak menulis dengan hati akan kena di hati.

    BalasHapus
  15. sama belum puas karena pasti masih banyak yang mau diulas.. step by step

    BalasHapus
  16. "Menulis dengan hati, menjadi spesial karena setiap manusia memiliki pengalaman batin yang tidak sama, persepsi yang tak sama terhadap pengalaman, akan membuahkan tulisan yang beda." yang begini nih yang harus tertanam di hati kita ya mak biar nulisnya selalu pakai hati.

    BalasHapus
  17. pas banget ini sebenarnya kekuranganku untuk lebih mengekspresikan.
    jadi banyak belajar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Even kemarin kaya nyentil ya, kalau kita jangan berhenti belajar

      Hapus
  18. Beruntung banget ya mba Nefertite kita bisa ikutan workshop ini Jadi Banyak belajar dan terus memperbaiki diri nulis ngeblognya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba, kita beruntung dapat kesempatan ini

      Hapus
  19. Aaah kalimat mba nefertite ini story telling bgt buatku

    BalasHapus
  20. Iyes Mba nefer, seperti novel 'DILAN 1991" yang nda mau berhenti saat bacanya karena bahasanya ringan dan kocak, pembaca diajak berimajinasi juga lewat tulisannya hehe.

    Bersyukur banget ya kemarin bisa dapet ilmu bergizi banget tentang menulis dengan cinta, akupun juga masih belajar dan mencari gaya penulisan yang cocok dengan styleku :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu, imajinasi itu juga nggak gampang kan

      Hapus
  21. Bener2 bermanfaat bgt yah mbak workshop ini apalagi buat aku yg masih terhitung pemula jadi blogger 😁😁😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah, aku juga merasa banyak dapat ilmu baru

      Hapus
  22. Aku kalo cerita curhat, baru bisa menulis dengan cara bertutur Mba, haha

    BalasHapus
  23. banyak ilmu yang di dapat, selama ini penasaran dengan cara menulis features stories :)

    BalasHapus
  24. Rasanya ini Mba Dini yang sekitar 5 tahun lalu saya simak talkshow-nya di kedutaan Italia. Mba Dini seorang jurnalis yang juga pintar menulis novel ber-setting daerah yang dia kunjungi. Nice memang nyimak curhatnya. Story telling so far memang gaya nulis yang asyik untuk dibaca pada blog personal, kalau untuk saya :)

    BalasHapus