Jumat, 02 September 2016

Masyarakat yang Ramah Anak

Anak-anak Belajar dari Kehidupannya

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia akan belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengancemoohan, ia akan belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaa, ia akan belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia akan belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia akan belajar  percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan  pujian, ia akan belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia akan belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia akan belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia akan belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia akan belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Kenal dengan puisi diatas kan? pasti kenal, karena puisi itu sangat populer di kalangan para pecinta anak, di kalangan praktisi pendidikan.

Puisi pendidikan karya Dorothy Law Nolte dalam buku Children Learn What They Live dan diterjemahkan cendekiawan Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Islam Aktual : refleksi sosial seorang cendekiawan muslim ( Bandung, Mizan, cetakan ke X, tahun 1998, hal 187.

Terasa sekali, puisi itu masih relevan sampai saat ini, bahkan mungkin puisi ini bisa saja menjadi puisi sepanjang waktu yang menginspirasi kita, bagaimana memperlakukan anak dengan semestinya.

Puisi tersebut menyampaikan bahwa tumbuh kembang anak tergantung pada bagaimana lingkungan memperlakukan anak itu.

Siapa lingkungan itu? lingkungan pertama tentu saja keluarga inti, yaitu ibu, ayah dan saudara sekandung. Setelah itu lingkungan sekunder bila ada, seperti paman, bibi, kakek, nenek, sepupu dan lainnya.

Masyarakat Sayang Anak

Masyarakat sebagai lingkungan yang selanjutnya tak kalah pentingnya, dalam mempengaruhi tumbuh kembang seorang anak.

Lihat saja bagaimana berbagai kejadian tentang tindak kekerasan kepada anak yang lebih banyak dilakukan oleh lingkungan terdekat, atau oleh bagian dari masyarakat.

Sudah waktunya tumbuh kesadaran di masyarakat bahwa seorang anak, siapapun dia adalah makhluk yang harus disayang, dicintai justru karena seorang anak itu makhluk yang lemah, yang belum bisa membela dirinya dengan baik.

Apabila sudah tumbuh kesadaran dan kesadaran itu menyebar secara luas, bahwa masyarakat hendaknya bersikap baik, bersikap ramah dan menyayangi anak, pastilah seorang anak itu akan merasakan kenyamanan dan kehangatan dimanapun berada.

Jika kesadaran ini berkembang dan solid, maka dia akan mampu menjadi kekuatan sosial, untuk menjaga setiap anak ayng berada di lingkungan masyarakat itu. karena setiap anak memiliki hak untuk disayang, hak untuk dilindungi, hak untuk dijaga.

Jadi, yang memiliki tanggungjawab untuk menjaga anak bukan hanya orang tua kandungnya saja, kerabatnya saja, tetapi kita semua memiliki kewajiban untuk menyayangi dan menjaga anak dalam situasi dan kondisi yang aman dan nyaman.

Kenapa? karena anak adalah tunas kehidupan, dialah yang kelak akan menggantikan kita semua. Anaklah generasi yang akan menggantikan generasi kakak-kakaknya, generasi orangtuanya.

Anaklah yang akan mengisi kehidupan ini pada saatnay nanti, maka sudah sewajarnya jika kita sebagai orang tua yang hidup ditengah masyarakat menjaga dan menyayangi anak.

Mulai dari kelompok kecil

Penanaman kesadaran pada masyarakat bisa dimulai dari kelompok kecil, seperti satu atau dua Kepala Keluarga. Pembentukan kelompok kecil ini efektif karena diskusi dan transfer ilmu bisa berjalan dengan efisien dan efektif.

Dalam kelompok bisa dilakukan banyak hal, bisa diskusi, simulasi dan saling berbagi ilmu,pengalaman di antara anggota kelompok.

Nah, selanjutnya beberapa kelompok kecil akan menjadi sel dan akan berkembang secara luas menyebar menjadi kelompok kecil dalam jumlah banyak. Lalu seterusnya, kelompok akan berkembang secara luas.

Dari sinilah diharapkan akan tumbuh gerakan ramah anak, gerakan sayang anak, gerakan lindungi anak. Akan tumbuhlah sebuah masyarakat yang hangat saling menyayangi satu sama lain, terutama menyayangi anak-anak.

7 komentar:

  1. Jadi ingat pesan bu Sitaresmi di sebuah seminar parenting... orang tua acuh, masyarakat acuh, negara acuh maka lahirlah generasi-generasi muda dengan nurani tumpul seperti sekarang ini :(

    Kadang suka serba salah ya, kalau lihat sesuatu yang tidak baik pengen meluruskan, malah dituding ikut campur, bukan anakmu ini nggak usah ikut2 ngurusin lah... :(

    Padahal sebagai sesama muslim kewajiban kita saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran ya mbak :)

    Mungkin memang harus dimulai dari diri sendiri..i

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang tidak mudah ya, namun selama kita melakukan dengan proporsional mungkin akan mengedukasi lingkungan juga

      Hapus
  2. btapa damainya dunia andaikata semua tampat bisa menciptakan masyarakat sayang anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin butuh waktu panjang, namun bukan hal yang tak mungkin ya untuk diujudkan

      Hapus
  3. di Jogja ada kampung ramah anak :)

    BalasHapus
  4. Sedih ya kalau anak menjadi proerti saja :(
    Smoga anak2 selalu terlindungi ya mba. Aamin

    BalasHapus
  5. anak merupakan titipan yang perlu kita jaga benar2.. :-)

    BalasHapus