Jumat, 09 Juni 2017

Berbincang Tentang Pancasila di Gedung MPR


Indonesia itu surga lho, omong apa sih? Indonesia kok surga? eh, coba kita ingat kan lagunya band legendaris Koes Plus? yang berjudul Kolam Susu? salah satu syairnya tongkat kayu dan batu jadi tanaman?. Lagu itu melukiskan betapa suburnya Indonesia.

Bukan hanya subur, Indonesia itu merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, hutan tropis terluas, memiliki ratusan suku, bahasa, budaya yang menjadi kekayaan tersendiri.

Ratusan suku, budaya, bahasa itu kebayang kan kalau masing-masing memiliki nilai budaya dan nilai sosial yang juga berbeda. Apakah itu menjadi masalah? ooh tidak, kan kita punya Pancasila yang menjadi payung bagi kita dalam hidup berbangsa dan bernegara

Kita jujur yuuk, jika akhir-akhir ini Pancasila sedang dipertanyakan, apakah benar masyarakat Indonesia itu menggunakan Pancasila dalam kehidupan bernegara dan berbangsa? apakah benar Pancasila menjadi landasan berperilaku sebagai anak bangsa?

Kalau benar, kenapa begitu banyak friksi, yang akhir-akhir ini sangat tampak di depan mata kita? begitu mudahnya sesama anak bangsa saling caci, saling bully, saling hujat.  


#IniBaruIndonesia

Iya kan, akhir-akhir ini sebagian kita seakan lupa, seakan tidak ingat lagi kalau kita ini bersaudara, kalau kita ini satu ibu, yang bernama Indonesia.

Begitu banyaknya pertikaian di medsos, membuat aku banyak merapat ke orang-orang yang aku anggap cinta Indonesia melebihi cintanya pada suku, agama dan golongannya.

Jadi beberapa waktu lalu, serasa amazing saat aku berada di sebuah ruang di Gedung Nusantara IV, MPR RI, membincang Pancasila, duh senang sekali. Ini yang aku rindukan, ciee.

Ketemu deh kita sama beliau Bapak Zulkifli Hasan ketua MPR RI, yang selama ini hanya bisa nonton di TV, kegiatan itu dalam rangka kegiatan #PekanPancasila

Pak Zul, demikian panggilan akrabnya menghimbau untuk menggunakan media sosial sebagai media untuk saling merangkul sesama kita, bukan malah digunakan untuk memukul.

Cocok sekali aku, terlebih akhir-akhir ini aku sering mengajak siapapun di medsos untuk selalu berbagi konten positif.

Ketua MPR, bapak Zulkifli Hasan

Blogger, sebagai elemen masyarakat yang memungkinkan untuk berbagi konten, terkena tanggungjawab sosial yang lebih dibanding masyarakat lain, untuk berbagi konten positif.

Saatnya kembali mengingat Pancasila sebagai pandangan hidup negeri ini, berusaha memahami dan mengaplikasikan dalam keseharian.

Pancasila sebagai salah satu dari #4Pilar negara kita diharapkan bisa menjadi dasar dari segala pola pikir, sikap dan perilaku kiat sehari-hari. 

Usai pak Zulkifli menyampaikan pidatonya, dilanjutkan oleh sekjen MPR, bapak Ma'ruf Cahyono yang banyak mengajak pada kita semua untuk melakukan introspeksi.

Beliau mengingatkan kembali perlunya seluruh elemen negeri ini untuk kembali menjalin kerukunan, saling bersaudara sebagai sebuah keluarga besar dari Sabang sampai Merauke.

Sekjen MPR Bapak Ma'ruf Cahyono

Karena saling bergandengan tangan, menjaga kerukunan sebagai sebuah keluarga besar itulah wajah Indonesia yang sejati. Menjaga toleransi tanpa memandang suku, agama, ras, #IniBaruIndonesia


#IniBaruIndonesia
#4Pilar
#PekanPancasila

22 komentar:

  1. Seringnya yg ramai di medsos aja, di dunia nyata aku belum lihat yg pada nyinyir sana sini terkait isu plural, bahkan teman ku yg beda pendapat klo ketemu dunia nyata tetap fren hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, karena diskusinya hanya terjadi di ruang yang serius, hehe

      Hapus
  2. Semoga masyarakat Indonesia kedepannya menjadi masyarakat yang bijak menyikapi keberagaman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiin, itu harapan kita semua ya mba

      Hapus
  3. Kita ini harusnya tetap memegang pinsip Bhinneka Tunggal Ika, berbeda namun tetap satu. Bukankah perbedaan itu juga rahmat? Menyikapi keberagaman dengan bijak adalah salah satu langkah mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, kekuatan kita ada di pluralis itu ya

      Hapus
  4. Dulu di SD diajarkan tenggang rasa san tepo sliro pas pelajaran Ppkn. Makin kesini kayak makin pudar. Perlu penguatan lg pentingnya kerukunan umat beragama dan kebhinekaan

    BalasHapus
  5. Tenang mba Yanti, yang ramai di medsos kalau ketemu tetep selfie-selfie kok haahaha

    BalasHapus
  6. Berbeda beda tapi tetap satu jua, itulah indonesia
    Ah ga ada yang lebih nyaman selain hidup di negeri yang ramah tamah ini deh klo kubilang...
    Coba klo kita yg jd minoritas di LN, pasti kecintaan kita pada rumah (negara sendiri) bakal lebih kerasa

    BalasHapus
  7. Cukup pedes yaa dunia maya akhir2 ini mbaa... nggak terkait politik pun sering ada senggolan. Di rumahku mba, pernah kejadian. Memang kita harus rem2 deh yang bikin panas...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kendali diri itu yang mungkin kurang

      Hapus
  8. Semoga Indonesia semakin damai dan bersahaja. Dan mengenai nilai pancasila semoga bisa ditanamkan sejak dini, bhineka tunggal ika.

    BalasHapus
  9. Banyak sih yang nggak merasakan langsung perbedaan dan diskriminasi di dunia nyata yang makin panas karena pesta politik kemarin. Sepertinya sebagian besar masyarakat kita masih kurang bijak bermedia sosial, makanya mudah sekali menyebarkan isu yang mengganggu kerukunan. Rasanya gampang banget klik Retweet atau forward-forward pesan di WhatsApp tanpa benar-benar mencerna dan kroscek sumbernya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia, kemauan cek dan re cek itu yang kurang dimiliki sebagian kita

      Hapus
  10. Iya betul. Masyarakat Indonesia harus disadarkan bahwa kekayaan suku, budaya, bahasa, dan agama, adalah sebuah aset bangsa yang tak ternilai harganya. Negara kita itu punya suku dan bahasa terbanyak sejagad lho.

    Btw, keren banget diundang ke MPR kak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, kekayaan yang belum etntu ada di negeri lain

      Hapus
  11. Sebenarnya dengan mengamalkan pancasila itu sudah sama dengan kita memeluk agama dengan baik. Atau dalam arti lain Tauhit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu mba, kebaikan itu ada di banyak jalan

      Hapus