Rabu, 04 Mei 2016

Sepercik Kasih untuk Yuyun

Kepedihan dan kesedihan masih terus disenandungkan di medsos, solidaritas atas tragedi yang menimpa Yuyun, masih terus berkumandang.

Hati siapa yang tak sedih dengan tragedi memilukan yang yang menimpa Yuyun? bagaimana mungkin, remaja kecil sendirian diperkosa beramai-ramai, dan yang menyedihkan juga sebagian pelaku perkosaan adalah remaja dibawah 17 tahun.

Bagiku, perkosaan terhadap remaja adalah kejahatan yang paling kejam dibanding kejahatan lain, karena dia merusak masa depan, merusak kehidupan.

Pelakunya, adalah orang-orang yang tak tahu malu, yang merendahkan dirinya sendiri dengan melakukan perbuatan nista sekeji itu.

Bukan semata soal kejahatan

Apa yang sedang terjadi di negeri tercinta ini? ada yang memukul-mukul rasaku, ketika merenungi, bagaimana mungkin, sebuah kejahatan kolektif dan keji dilakukan di sebuah desa yang berada di pelosok Sumatra.
Ayuk kita renungi, karena lazimnya, sebuah desa adalah sebuah masyarakat yang kecil, satu sama lain saling mengenal, dan tentunya akan saling memahami.

Ada sesuatu yang telah pergi dari tengah kita, ada yang hilang dari kultur kita, dan itulah yang memungkinkan terjadinya kejahatan di sebuah kelompok sosial kecil yaitu pedesaan.

Kita jangan lupa, kalau beberapa pelaku kekejian ini sangat mengenal Yuyun, adik kelas mereka sekaligus tetangga yang masih berada di desa yang sama.

Negeri ini adalah negeri yang penuh dengan ajaran luhur nenek moyang yang dahulu kala menjadi dasar bagi masyarakat dalam bergaul. Banyak sekali ajaran yang memiliki pesan moral agar kita satu sama lain melakukan interaksi atau pergaulan yang bermartabat

Terlepas dari pemicu kekejian itu adalah faktor miras, namun persoalannya tidak sesederhana itu, banyak faktor lain yang kompleks yang melatarbelakangi kejadian itu.

Apa yang hilang dari kultur kita?

  • Saling menghormati
    Sebagai sesama manusia, ajaran saling menghormati sudah mulai aus termakan jaman, penghormatan yang sejati adalah penghormatan yang tidak memandang atribut sosial yang disandang, seperti fifik, materi, jabatan, pangkat, dan lainnya.
    Jika saja para pelaku kejahatan itu menghormati diri mereka sendiri dan menghormati Yuyun, maka mereka tak akan tega melakukan kekejian itu.
  • Saling peduli
    Ditengarai, bahwa pemicu kejahatan keji itu salah satunya karena tuak 'hidup' di desa itu. Jika saja masih ada sikap saling peduli di desa itu, tentu akan ada kontrol, bagaimana minuman keras itu dihilangkan dari pasar.
  • Saling menjaga
    Hidup dalam lingkup kecil, biasanya akan tumbuh sikap saling menjaga, tapi hal ini tidak terjadi, padahal sebagian pelaku mengenal korban sebagai adik kelas, tetapi tidak dijaga dan tidak dilindungi.
  • Saling menyayangi
    Sikap saling menyayangi, jika ditumbuhsuburkan, dia tak mengenal batas. Sikap saling menyayangi akan melahirkan keinginan untuk membantu, untuk meringankan masalah, untuk membuat orang lain tidak bermasalah akibat dirinya.
  • Gotong royong
    Nilai gotong royong, nilai yang dulu paling dominan di masyarakat kita, ini juga mengalami penggerusan. Perkembangan jaman semakin sulit dibendung dengan nilai yang kita miliki.
  • Berbuat baik kepada sesama
    Berbuat baik pada sesama, tampaknya hanya menjadi jargon semata, terbukti tak bisa mencegah keburukan bahkan kekejian yang diilakukan oleh orang yang saling mengenal.
Sebagian ajaran itu dahulu banyak menghiasi pergaulan kita, dan tumbuh subur terutama di daerah pedesaan, sehingga menimbulkan pertanyaan dan perenungan, kenapa kejahatan sekeji itu bisa terjadi di pedesaan?

Ataukah benar karena mereka juga teracuni tontonan BF yang sekarang sangat mudah diakses tanpa filter? atau benarkah kematian Yuyun korban kemiskinan?

Membutuhkan waktu dan kajian yang lebih panjang untuk menjawab dengan tuntas dan tepat tentang kasus Yuyun ini, namun alangkah baiknya jika kasus ini menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua.

Setidaknya, marilah kita asah hati kita, untuk lebih peduli lagi pada sesama kita, terutama yang berada di dekat kita, di sekeliling kita.

Ayuk kita asah lagi hati kita agar bisa menumbuhsuburkan kepedulian, kasih sayang, kebaikan bagi sesama, bagi seluruh penghuni semesta ini.

10 komentar:

  1. Saya nyesek kalau membaca kisah Yuyun, sekarang memang sdh hilang mba apa yg mba paparkan. Kejadian yg saya alami ketika jatuh dr motor yg saat itu bonceng anak saya Alhamdulilah saya hny jd tontonan gratis bagi mahasiswa yg ada disekeliling. Uda ga ada rasa tolong menolong, rasa peduli dan berbuat baik :(

    BalasHapus
  2. bagus mbak tulisannya. Saat ada yg menyalahkan pemerintah untuk kasus kekerasan perempuan semacam ini, sy pun gak langsung mengiyakan, krn sbnrnya kita masyrkt kalau saling peduli jg bisa kok berkontribusi. dengan saling menjaga yg mbak blg tadi. makasih udah nulis ini ya mbak

    BalasHapus
  3. Iya mbak kita sudah banyak kehilangan hal-hal berharga dlm hidup bermasyarakat. Semoga masih bisa membekali anak cucu hal2 berharga ini

    BalasHapus
  4. Aku ingat 3 anak laki2 SMP yg menolong ABG yg mau diperkosa tukang ojeg ditepi hutan, tapi mereka tidak mabuk itulah masalahnya kalo sdh mabuk akal sehat tdk berfungsi lg

    BalasHapus
  5. Sungguh sedih baca berita tentang Yuyun ini. Rape culture di negara kita masih begitu kuat dan sayangnya peran pemerintah masih kecil banget di sini. Hiks :(

    BalasHapus
  6. Saya punya anak perempuan dan selalu merasa resah sekaligus kuatir luar biasa tiap kali membaca berita-berita seperti ini. Teman saya dulu sampai rela mengantar-jemput anaknya sekolah sejak SD kelas I karena kekuatiran yang sama. Ah, masa iya Indonesia yang indah dan nyaman ini sudah tidak memberikan rasa tenteram lagi bagi warganya?

    BalasHapus
  7. banyak nilai-nilai luhur ketimuran kita banyak yang hilang . coba liaht nilai-nilai luhur itu semua ada dalam kitab suci. Pendidikan agama dan etika harus terus dikobarkan kembali

    BalasHapus
  8. telah terjadi pergeseran nilai kemanusiaan di indonesia, efek globalisasi turut menyeret perilaku remaja untuk berbuat keji

    BalasHapus
  9. saya membaca beritanya sepintas, sedih :(

    BalasHapus
  10. Sedih bergidik mengingt kasus ini. Memang bangsa ini sudah mulai kehilangan nilai-nilai. Harus dimulai lagi dari generasi yang sekarang Kalau nggak, entah apa jadinya bangsa ini nanti.

    BalasHapus