Kamis, 20 Oktober 2016

18 Tahun Komnas Perempuan, Setia Melawan Lupa

Sudah lama aku ingin terjun lagi ke dunia pergerakan, dunia volunteer, dunia sosial, karena pernah mengalami dan merasakan bahwa dunia volunteer itu membahagiakan, berbagi dan peduli itu membahagiakan.

Maka ketika ada undangan ke kantor  KOMNAS PEREMPUAN, rasanya senang sekali, karena setahuku komisi ini adalah komisi yang concern terhadap perempuan, melakukan pembelaan, edukasi dan lainnya.



Ibu Yuniyanti Chufaizah

Sungguh, rasanya campur sari, eh campur campur, ada seneng, ada tak percaya aku bisa menginjakkan kaki ke gedung ini, gedung yang berisi para aktifis yang peduli terhadap persoalan perempuan.

Bersama beberapa kawan blogger, kami diajak makan siang terlebih dahulu, sebelum diskusi dimulai. 

Ada kesempatan untuk shalat bersama peserta lain, membuat aku sempat memasuki beberapa ruang yang kebetulan kulewati menuju tempat sholat.

Sejarah dalam display

Ada yang menarik, setiap memasuki ruang yang ada di gedung itu. Mungkin karena sebagian besar penghuni gedung Komnas perempuan adalah kaum hawa, ruangan yang aku masuki, semua rapi dan wangi hehehe.

Sebelum diskusi dimulai, kusempatkan masuk  ke beberapa ruangan, melihat display  memotretnya dan membaca meskipun satu dua lembar. Display yang dipajang sebagian besar adalah kisah nyata beberapa peristiwa, terutama yang menimbulkan penderitaan bagi perempuan.

Setelah acara makan siang dan melaksanakan sholat, dihibur oleh sebuah grup band yang anggotanya semua perempuan, dengan lagu-lagu yang bercerita tentang perempuan juga.

Oh ya, acara ini dilakukan dalam rangka ulang tahun Komnas perempuan yang ke 18. 

Disampaikan oleh Ibu Yuniyanti Chufaizah, mantan ketua Komnas Perempuan, diskusi berjalan asyik, karena menyampaikan tentang fakta yang terjadi pada sekitar tahun 1998.

Dengan tersendat, menahan tangis ibu Yuniyanti menceritakan sedikit kisah tentang berbagai kejadian , ada kejadian tahun 1965, tahun 1998. Pada setiap kejadian selalu menimbulkan korban kekerasan pada perempuan, terutama kekerasan seksual.

Suara ibu Yuniyanti yang tersendat, seperti membawaku ke masa lalu, sekitar tahun 1998-1999. Meskipun aku waktu itu berada jauh dari ibukota, namun aku mengikuti peristiwa itu dari koran-koran nasional.

Sedih, miris dan ngenes ketika membayangkan apa yang dialami kawan-kawan perempuan yang terjebak kerusuhan massal, tanpa bisa melindungi dirinya dari kekejian orang-orang yang tak bertanggungjawab.

Dikatakan bahwa Komnas Perempuan lahir dari tuntutan masyarakat sipil, utamanya kaum perempuan. Yaitu tuntutan kepada pemerintah untuk mewujudkan tanggung jawab negara dalam menanggapi dan menangani persoalan kekerasan terhadap perempuan. 


Pohon harapan

Prasasti Mei 1998


Momen ulang tahun ke 18


Tahun ini usia Komnas Perempuan memasuki usia 18 tahun, usia remaja jika diibaratkan seorang gadis. 

Bagi Komnas Perempuan, di usia 18 tahun ini mengajak semua lapisan masyarakat untuk tidak melupakan sejarah kelam yang pernah menimpa perempuan-perempuan negeri ini pada masanya.

Kami, para blogger lalu diajak memasuki beberapa area, mulai dari ruang display, beberapa benda yang menceritakan sejarah kelam tahun 1998/ 1999 dan lainnya.

Komnas Perempuan mendedikasikan gedung ini bukan saja sebagai sebuah kantor, namun gedung ini menjadi sebuah pusat data, sebagai museum, saksi bisu sebuah peristiwa. 

Selain mural, di dalam ada ruangan semacam ruang memorabilia peninggalan korban tragedi Mei '98. Gedung ini menerima siapa saja yang ingin berkunjung, dan ingin lebih tahu lagi tentang sebuah episode sejarah negeri ini.

Diantara benda-benda memori itu ada yang disebut sebagai selendang persahabatan, yaitu selendang yang merupakan pemberian dari Perhimpunan Perempuan Indonesia Tionghoa ( PINTI ) korban tragedi Mei 1998.

Mural di luar gedung, semakin menegaskan kalau gedung Komnas Perempuan adalah gedung yang ddekiasikan bagi perempuan Indonesia. Mural setinggi 11 meter itu menunjukkan kaki perempuan yang terlilit.

Selain itu, ada juga patung solidaritas yaitu tujuh orang perempuan dalam hal ini disebut dengan pitulungan ( pitu dalam bahasa jawa artinya tujuh ), yaitu perempuan yang saling menjaga, saling tolong menolong dalam kondisi apapun.

Salah satu ruang display sejarah dan data

Patung solidaritas

Dijelaskan oleh Elwi Gito sebagai Asisten Kampanye Divisi Partisipasi Masyarakat, makna mural itu adalah untuk bagaimana di tengah belitan banyak diskriminasi tetap berjuang berusaha membuka belitan itu.

Selebihnya, berbagai mural itu juga mengingatkan masyarakat dari berbagai kalangan agar kejadian tragis beberapa tahun yang lalu itu tidak terulang lagi. Agar tak ada lagi kekerasan seksual terhadap perempuan.

Hasil gambar untuk gedung komnas perempuan

33 komentar:

  1. Wah sayang saya di bandung, kalo di jakarta, mau da ☺☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemarin kayanya ada kawan dari bandung juga mba, makasih ya mba, udah mampir

      Hapus
    2. Kemarin kayanya ada kawan dari bandung juga mba, makasih ya mba, udah mampir

      Hapus
  2. Wah sayang saya di bandung, kalo di jakarta, mau da ☺☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau pas ke Jakarta, mampir aja ke kantor Komnas Perempuan, boleh kok kita baca-baca atau sekedar diskusi

      Hapus
  3. Balasan
    1. Sama-sama mba, makasih juga udah mampir

      Hapus
  4. Bagus y mba tujuannya komnas perempuan obyek penderita memang lebih banyak perempuan :/ nice to sharing mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perempuan selalu disalahkan sekalipun dialah korbannya, makasih mba udah mampir

      Hapus
  5. KOmnas Perempuan memang sudah sangat teruji sebagai lembaga negara yang mendukung perempuan melawan kekerasan. Duh jadi kangen ke KP. Mbaa, nggak ngajak aku sih :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga masih kepengin main dan diskusi ke Komnas Perempuan mba

      Hapus
  6. Semoga Komnas perempuan dapat merangkul semua perempuan yang mengalami kekerasan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, kerjaan berat tuh, masyarakat musti bantu

      Hapus
  7. Perempuan harus kita lindungi, terimakasih infonya mba

    BalasHapus
  8. Mari kita munculkan kartini-kartini masa kini :)

    BalasHapus
  9. Muralnya lucu, hehe salah fokus jadinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, muralnya keren, pinetr banget tuh yang bikin

      Hapus
  10. ... bahwa perkumpulan wanita lebih dari sekedar kelompok wanita. Berkumpul dengan wanita luar biasa, maka kita akan tertular dengan energi dan ide-ide mereka. Itulah kekuatan perkumpulan wanita!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, semoga energi perempuan bisa membantu perempuan terhindar dari keekrasan

      Hapus
  11. semoga kekerasan terhadap perempuan semakin sedikit. Suka miris akalu ada kejadian kekerasan terhadap perempuan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, masih butuh waktu panjang mungkin ya untuk hilangkan keekrasan

      Hapus
  12. Duh Mbak Ya tj, kalau bicara korban kekerasan seksual selalu ada rasa geram Tapi iya benar, sebagian korban tidak tau apa yang harus dilakukan sesudahnya. Kalau ada semacam panduan langkah yang bisa dilakukan korban, rasanya perlu sosialisasi lebih luas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Panduannya yang ada belum disosialisasikan , banyak masyarakat yang belum tahu

      Hapus
  13. Sayang kemarin ngga ikut acaranya. Kan lumayan untuk mengupgrade pengetahuan ya mba. Hihhii
    Dengan ini semoga hak hak perempuan semakin mendapat tempat. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, semoga perempuan semakin berdaya sehingga tak ada lagi keekrasan

      Hapus
  14. Jadi, jadi, apa prestasi yang sudah dicapai Komnas Perempuan selain punya gedung kantor sendiri?

    BalasHapus
  15. Semoga komnas perempuan semakin aktif melindungi perempuan. Dan semoga ada sosialisasi lebih umum kepada perempuan di manapun, jadi perempuan tidak merasa sendirian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mungkin perlu dibantu oleh banyak kalangan adalah sosialisasi dan semacam satgas di segala pelosok karena banyak keekrasan yang tidak terangkat disebabkan berada jauh dari perkotaan

      Hapus
  16. Sepertinya para wanita tidak boleh melewatkan yang satu ini ya mbak karena sifatnya yang membimbing dan juga memberi pelajaran yang bermanfaat.

    BalasHapus
  17. Keren mbak kegiatannya, karena wanita itu harus dijaga dan dimengerti, karena wanita adalah busana terindah untuk laki-laki.

    BalasHapus
  18. Wanita juga memiliki hak nya . Tegakan hak mu wahai kaum wanita !

    BalasHapus
  19. Wah sayang banget kemaren aku gak ikutan, aduh jadi nyesel dehh, semoga tahun depan bisa ikutan dehhh

    BalasHapus