Jumat, 28 November 2014

Cinta Ibu Membuatku Rindu




            Mengingat kembali berbagai kisah bersama ibu, bisa menjadi hal yang mudah karena semua kisah bersama ibuku semuanya indah, semuanya mengesankan. Tetapi menuliskannya kembali menjadi tidak mudah karena akan mendatangkan kembali kerinduan kepada ibunda yang sekarang sudah berada di haribaan Tuhan Pemilik Semesta.
            Aku lahir ditengah-tengah orang tua yang gemar melakukan aktifitas sosial, baik ayahku maupun ibuku. Ibuku sebenarnya seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki aktifitas formal selain mengerjakan kegiatannya sebagai ibu rumah tangga. Namun bukan berarti ibuku setiap saat selalu berada di rumah, ada kalanya beliau melakukan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan.
            Di lingkungan yang terdekat seperti RT, Kelurahan hingga Kecamatan, ibuku banyak melakukan kegiatan sosial, beliau sering diundang sebagai penceramah baik pengajian ataupun penyuluhan secara sukarela. Dalam berbagai aktifitas sosialnya, tak jarang ibuku harus ke desa-desa di lereng pegunungan, yang letaknya sangat jauh dari desa yang kami tinggali.
                        Ketika usiaku masih balita, hingga menjelang tujuh tahun, ibuku sering mengajakku pergi saat beliau melakukan aktifitas sosialnya tersebut. Aku diajak karena waktu itu dirumah sering tidak ada orang, sebab ayahku juga jarang di rumah dan tidak ada pembantu yang bisa mengasuh kami. Kebiasaan jaman dulu dengan menitipkan anak pada tetangga atau pada kerabat, sama sekali tidak pernah dilakukan oleh ibuku. Ibuku lebih suka  membawa aku dan adikku bersamanya selama beliau melakukan aktifitas diluar rumah..
            Seperti waktu itu, usiaku enam tahun dan adik perempuanku yang usianya hanya selisih enambelas bulan denganku, diajak ibu pergi ke sebuah desa di lereng pegunungan dengan jarak yang harus ditempuh sekitar enam kilometer. Kami tinggal di desa kecil dan  pada tahun tujuhpuluhan sama sekali belum ada transportasi apapun, sehingga jarak sejauh itu harus ditempuh dengan berjalan kaki.
            Aku  masih sangat ingat, saat itu bulan Ramadhan, kami berangkat menjelang siang hari . Pada awal perjalanan, aku dan adikku digandeng ibuku, melewati jalanan yang masih berbatu-batu, jalan tanah berdebu.  Kadang-kadang kami harus berjalan melewati tanjakan atau jalan menurun . Mengenakan kain dan kebaya, berkerudung dan membawa tas dipundaknya, beliau dengan sabar berjalan pelan-pelan menuntun  kami disisi kanan dan kiri, sambil mendongeng. Baru berjalan sekitar satu kilometer, adikku sudah merengek kelelahan, minta digendong, dan dengan tersenyum lebar, ibuku menurutinya dengan menggendong  adikku dipunggung beliau, sedangkan sebelah tangannya menggandengku.
            Tidak hanya sekali kaki ibuku terpeleset debu yang kering saat sampai di jalan yang menanjak atau turunan yang agak curam. Namun tidak sekalipun kudengan keluhan atau suara mengaduh dari mulud ibuku, selain tertawa kecil seperti mentertawakan kakinya, dan masih sambil mendongeng. Sangat mungkin, ibuku saat itu juga lelah, karena dalam kondisi berpuasa, menggendong adikku yang sudah berusia menjelang lima tahun dan menempuh jalan yang tidak mudah. Namun cintanya yang begitu besar pada kami, anak-anaknya,  membuatnya mampu  menghilangkan rasa letih, bahkan melipur hati kami dengan tetap mendongeng sepanjang perjalanan  Untuk mengurangi rasa letih, sesekali kami berhenti untuk beristirahat dan saat itu adikkupun akan turun dari punggung ibuku, sambil ibuku melepaskan letihnya, kamipun bisa membuka minuman yang kami bawa dari rumah.  
            Dengan pemikiran anak-anak waktu itu, aku meminta adikku turun dari punggung ibuku dan berjalan kaki saja karena kasihan ibuku sedang puasa.  Tetapi ibuku malah mengatakan bahwa adikku masih kecil jadi biar saja tetap digendong dipunggungnya.  Dalam perjalanan itu kami harus melewati sebuah jembatan bambu yang dibawahnya mengalir sungai. Meskipun sungai itu tidak besar dan juga sungai dangkal, namun aku dan adikku waktu itu tetap saja tidak berani untuk berjalan  diatas jembatan bambu itu karena jembatan itu akan bergerak-gerak ketika dilewati orang. Bukan hanya adikku, akupun minta digendong ibuku saat melewati jembatan itu. Karena tidak mungkin untuk menggendong dua anak sekaligus, maka kamipun digendong bergantian.
            Masih sangat jelas teringat hingga saat ini, bagaimana sulitnya  ibuku yang mengenakan kain kebaya, harus menggendong dengan satu tangan dan satu tangan lagi  harus berpegangan pada tiang bambu, berjalan perlahan melintasi jembatan. Adikku digendong terlebih dahulu menyeberangi jembatan, dan diminta menunggu diseberang, lalu ibuku kembali ke tempat aku menunggu dan menggendongku menyeberang. Masih terasa sampai saat ini, betapa waktu itu merasa hangat dan benar-benar merasa aman terlindungi oleh pelukan kuat dalam gendongan ibuku, rasa takut melihat sungai dibawah jembatan hilang entah kemana. Sebenarnya ada beberapa pejalan kaki yang melintasi jembatan itu, menawarkan diri untuk menggendong salah satu dari kami, agar beban ibuku lebih ringan, namun baik aku maupun adikku waktu itu tidak mau digendong oleh orang selain ibuku.
Kalau diingat sekarang, betapa kami sangat merepotkan waktu itu, namun sungguh tak ada raut kesal, ucapan marah, kesal dan yang laiinya. Begitu juga saat kami pulang dari desa, mengulang perjalanan yang sama dengan cerita yang sama, hanya pulangnya adikku sudah tidak minta digendong lagi, selain saat melintasi jembatan.
Masih kuingat saat kami tiba dirumah kembali di sore hari, ibu menceritakan pada ayahku tentang  perjalanan kami. Lagi-lagi, sambil tertawa ibu menceritakan bagaimana adikku yang minta digendong, kami yang digendong bergantian saat melewati jembatan.
Ternyata hati ibu penuh dengan cinta, cinta itulah yang mengalahkan segala lelah, sehingga saat harus menempuih perjalanan yang sulit dan harus menggendong anak-anaknya, beliau tetap saja penuh tenaga, penuh gairah untuk melindungi dan membuat anaknya merasa aman dan nyaman.

           


6 komentar:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  2. Sahabat tercinta,
    Saya mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah mengikuti Kontes Unggulan Hati Ibu Seluas Samudera di BlogCamp. Setelah membaca artikel peserta saya bermaksud menerbitkan seluruh artikel peserta menjadi buku.

    Untuk melengkapi naskah buku tersebut saya mohon bantuan sahabat untuk mengirimkan profil Anda dalam bentuk narasi satu paragraf saja. Profil dapat dikirim melalui inbox di Facebook saya atau via email.

    Jangan lupa cek email ya, ada berita penting
    Terima kasih.

    BalasHapus
  3. Ah indahnya mengenang ibu kita ya mbak. Semoga ibu kini lebih bahagia lagi di alam sana, aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba Win, selalu kangeen, akhirnya mweeek dweh, hehe
      makasih mba udah mampir
      salam hangat

      Hapus
  4. cinta ibu memang tidak terkalahkan oleh apapun ><

    BalasHapus