Selasa, 19 April 2016

Romantisme Masakan Ibu

Suka masakan ibu kita? pasti lah, nyaris tak ada seorangpun yang tak suka masalan ibu kita, apapun masakan itu, entah pandai atau tidak ibu kita memasak, maskan ibu selalu paling enak. Masakan ibu tuh, rasanya disini nih, bener kan?.

Tentang masakan ibu ini, aku ingat beberapa cerita-cerita lucu dan unik disekitarku, tentang bagaimana kecintaan seorang anak terhadap masakan ibunya.

Rindu Masakan Ibu

Kerabatku, sebut saja namanya mas Budi, usianya sudah menjelang enampuluh tahun dan sudah memiliki cucu.
Setiap Hari Raya Iedul Adha, selalu pulang ke rumah ibunya yang jaraknya sangat jauh, berada di  dua privinnsi. 

Jarak tempuh dengan mobil bisa memakan waktu tujuh hingga delapan jam, jauh bukan?. Jarak sejauh itu selalu dia tempuh, demi apa coba?, demi merasakan gulai kepala kambing yang dimasak oleh ibunya yang sudah berusia delapanpuluh tahun, tuh kan.

Sepintas, melihat jabatannya, melihat kondisi keluarganya, dia bisa membeli gulai terenak di restoran terbaik yang dia pilih, tetapi tidak. Karena kata dia masakan ibunya tidak ada yang bisa meniru, rasanya pas, enak dan bikin ketagihan.

Istrinya juga sudah berusaha memasak dan menggunakan resep yang persis sama dengan ibunya, tetapi hasilnya tetap tak sama, hehehe. Tetap lebih enak masakan dengan tangan ibu.

Pernah satu saat, adiknya  yang berkunjung ke Jawa Timur dimana dia tinggal, dia pesan melalui telepon, untuk bawa bumbu gulai yang sudah jadi, yang dibuat ibunya.

Pernah juga ketika dia nggak bisa mudik di hari Raya Qurban, dia mudik sebelum hari H, khusus untuk minta dibuatkan bumbu gulai kepala kambing, hehehe.

Katanya nih, katanya bumbu gulai kepala kambing, sedikit berbeda dengan bumbu gulai daging kambing, ada bumbu lain yang ditambahkan.

Ada lagi kisah lain, seorang anak yang telah sukses hidup di kota, hampir setiap hari meminta sopirnya untuk pulang, minta masakan yang dimasak ibunya. jarak tenpuh sekitar limapuluh kilometer.

Hal ini dilakukan, karena ibunya tak mau diajak ke kota tempat tinggalnya, dan anak itu selalu kangen masakan ibunya.
Bahkan ketika beliau ini punya hajat, menikahkan anaknya, ibunya dia boyong khusus untuk ngolah bumbu masakan kegemarannya. Karena sudah sepuh, ibunya dimintanya menjadi komandan di dapur.

Tengiri asap campur pete

Kenapa Rindu Masakan Ibu?

Kalau aku, lain lagi. Karena ibuku sudah berpulang, yang bisa kulakukan untuk mengobati kangenku pada masakan ibu, ya mencoba mengolah masakan yang sering aku rasakan saat aku kecil

Setelah kurenungkan, "halaaah", yang membuat rindu pada masakan ibu, karena ibulah satu-satunya pemilik otoritas urusan masakan, urusan dapur, urusan menu meja makan.

Aku ingat, sesibuk apapun ibuku, selalu masak dengan tangannya sendiri, sekalipun warung makan tepat berada di depan rumahku, dan bergeser sedikit sudah pusatnya warung makan.

Bandingkan dengan sekarang ini, sebagian kita yang ibu  dengan gampang mungkin akan memilih beli saja, tokh warung makan banyak, tinggal pilih.
Alasannya macam-macam ya, ada yang lelah, nggak ada waktu, banyak kegiatan keluar rumah, dan laiinya.
Masakan yang sering diberikan ibu kepada kita, saat kita kecil

Masih jelas rasanya terbayang, pulang sekolah Ibu selalu mengatakan :"Itu, di meja sudah ada tempe bacem, sambal, besengek daging", atau "Makan dulu, ada plecing pete sama daging", atau yang ini "Terik tempe tahu, sambel tomat", dan banyak lagi.

 
Nasi brongkos daging


Tempe bacem 


Lontong Tauto

Fragmen siang hari, bayangan masakan ibu yang terhidang di meja makan, seingatku benar-benar menjadi sensasi tersendiri. 

Aku ingat, bagaimana begitu mendengar bel pulang sekolah berbunyi, akan langsung terbayang hidangan di atas meja makan, hasil olahan tangan cinta ibu.

Aku ingat juga, dengan cepat tanganku membereskan buku dan alat sekolah, memasukkan ke dalam tas, bergegas melangkah keluar sekolah. Bergegas pula kaki ini ingin segera sampai di rumah, dan membayangkan segera makan siang.

 Kering tempe basah

Pecak ikan

Uniknya, meskipun setiap istirahat kedua jajan di kantin dengan menu makanan berat, tetapi setiap pulang sekolah selalu merasa lapar. Menginjakkan kaki ke rumahpun selalu langsung makan.

Tanpa mengurangi rasa hormat bagi ibu yang tak sempat memasak, berbahagialah buat ibu yang suka memasak di rumah untuk keluarganya. Seperti apapun masakan ibu, masakan itu menjadi perekat bagi anak untuk cepat pulang.

Ya, anak ingin cepat pulang, karena dia tahu, sampai di rumah ibunya menunggu dengan masakan yang enak. Konon masakan ibu adalah perekat rindu dan cinta segenap anggota keluarga, romantis bukan?

Kekuatan masakan ibu adalah sebuah kenangan yang selalu memanggil-manggil di alam bawah sadar, saat seseorang jauh dari ibunya. Baik jauh secara fisik emosional, maupun jauh karena dunia yang sudah berbeda.

Jadi, bukan rasa makanan yang enak, bukan bahan makanan yang mahal, atau bukan banyaknya macam masakan. Namun kerinduan pada masakan ibu adalah sensasi yang terasa, membayangkan ibu menunggu, membayangkan disuruh cepat makan, lalu di meja terhidang masakan untuk makan siang.

Aku sering mencoba kembali masakan ibuku, untuk mengobati rasa kangenku, bagaimana denganmu? apakah punya kenangan tentang masakan ibu?

21 komentar:

  1. ternggir asap tampak enak mbak, tapi aku mau yg tanpa pete ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, aku dari kecil suka dimasakin ini sama ibuku hehehe.
      terus sesekali ditambah pete

      Hapus
  2. Masakan ibu memang tak ada tandingannya. Saya juga mencoba dengan resep yang sama tapi hasilnya tetap lebih enak masakan mama. Kata mama, masakan beliau jauh lebih enak masakan nenek :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah ibu, maskanyapun pasti terinspirasi ibu beliau yaitu nenek kita.

      Hapus
  3. saya jg suka kangen masakan ibu, apalagi sekarang jauh, beda kota :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, betul. Sesederhana apapun, masakan ibu selalu paling nyuss

      Hapus
  4. Masakan ibu memang ajaib ya Maaak :') akupun kl lagi lebaran di rumah mertua, ttp minta simpenin opor dirumah buat aku makan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, iyaa aku juga selalu request masakan tangan ibuku

      Hapus
  5. Membaca tulisan tentang masakan ibu ini aku juga kangen pada masakan almarhumah ibuku. Entah kenapa ya masakan dia lebih enak. Mungkin karena saraf perasa kita terbiasa sejak kecil ya Mbak :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, itu juga berpengaruh, saraf perasa yang terkirim ke memory kita, jadilah masakan ibu selalu dirindukan

      Hapus
  6. Duh mbak, aku pagi" kesini makin laper. Petenya menggoda itu nyam...nyam

    BalasHapus
  7. Benar, masakan ibu tiada duanya dan bikin kangen. Waktu saya masih kost, meski masih otw di bis sdh pesen sama ibu, pengen makan 'brambang asem' atau 'ikan asin tumis pedes'.. haha.. sekarang ya saya nunggu pulang kampung dulu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba, makanya sesekali aku coba masak sendiri karena ibu sudah almarhum.
      Tetep enak masakan beliau

      Hapus
  8. mba tite, aku kangen botokmu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuuk, tindak rene, tak masakke botok

      Hapus
  9. masakan ibu mah gak ada duanya mba, meskpiun makanan restoran enak, tapi gak jauh lebih enak dari masakan ibu
    kalo ibu masaknya penuh perasaaan soalnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ditambah syaraf perasa kita waktu kecil, terserap di memory, jadi kangen itu bikin masakan ibu makin lezaat

      Hapus
  10. sebagai seorang rantau, rasa makanan ibu benar2 membuat kangen rumah

    BalasHapus
  11. jadi pingin pulang kampung mbak,, kalau bicara masakan ibu

    BalasHapus
  12. masakan ibu emang luar biasa.. makanya aku sekarang pengen pinter masak, biar anakku bangga sama masakan ibunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuuk,semangat, kudu pinter masak hehehe. Besok, sesudah anak dewasa dia akan selalu kangen masakanmu

      Hapus