Rabu, 14 Desember 2016

Terapi Pijit di Mom n Jo Spa, Bagi yang Kecanduan Gadget

Di kota seperti Jakarta dan kota besar lainnya, masyarakatnya cenderung hidup dalam suasana serba cepat. Situasi tersebut, bagi sebagian orang menimbulkan tekanan baik fisik maupun psikhys. 
Maka tak heran jika sebagian masyarakat berusaha mencari aktifitas yang bisa menghilangkan penat dan stress akibat pekerjaan yang menumpuk, maupun situasi kota metropolis yang dinamikanya sangat cepat.
Salah satu pilihan menghilangkan stress adalah dengan menjalani spa, yaitu suatu rangkaian pemijatan, yang salah satu medianya adalah menggunakan air.
Salah satu tempat spa yang populer  adalah Mom n Jo. Berbeda dengan tempat spa pada umumnya, Mom N Jo menghadirkan perawatan relaksasi untuk ibu hamil, anak-anak dan bayi.
Fifi Lim Anggraeni, founder Mom n Jo

Dr Anggia Hapsari

Mom N Jo didirikan oleh Fifi Lim Anggreani pada 8 April 2006. Ia mendirikan spa ibu hamil dan anak-anak ini awalnya karena mengalami kesulitan menemukan spa khusus tersebut.
Dengan konsep homey, Mom N Jo hadir untuk memanjakan dan mengatasi keluhan-keluhan para ibu hamil. Keluhan tersebut seperti kulit kering, tersendatnya sirkulasi darah, perubahan hormon, dan tingginya tingkat stres.

Hari Jum'at tanggal 9 Desember 2016, Mom n Jo mengundang blogger dan media, dalam rangka Press Conference dan Launching Treatment Gagdet Holic, bertempat di Cinere, yang merupakan lokasi Training Centre.

Acara dibuka oleh Ibu Wulan selaku direktur Mom n Jo, yang menyampaikan terimakasih atas kehadiran media dan blogger. Dilanjutkan Ibu Fifi Lim Anggraeni selaku founder dari Mom n Jo Indonesia.

Nara sumber pertama adalah dr. Anggia Hapsari, SpKJ(K) selaku Psikiater Konsultan Anak dan Remaja, yang menyampaikan tentang bahayanya kecanduan gadget bagi seseorang, baik anak-anak maupun dewasa.

Mrs Marybetts Sinclair LMT

Masa ini disebut dengan era digital, yaitu nyaris semua aspek kehidupan manusia berkaitan dengan internet, bahkan perkembangan bisnis game marak di mana-mana.
Kaitannya dengan game ini, menjadi buah simalakama bagi para orang tua, karena di satu sisi orang tua memiliki kewajiban untuk mengenalkan anaknya pada perkembangan digital, agar anaknya tidak ketinggalan informasi.

Di sisi lain, gadget yang semula dimaksudkan untuk menjadi sarana pemenuhan informasi dan pengetahuan, sudah berubah sedemikian rupa memiliki pengaruh yang tidak kecil pada gaya hidup.

Ketika pengaruh positif juga diperoleh dengan menggunakan gadget, pengaruh negatif juga merupakan potensi yang ada dalam penggunaan gadget yang berlebihan.

Menurut  dr. Anggia Hapsari, SpKJ(K) ada beebrapa ciri yang menonjol pada orang atau anak yang mengalami kecanduan gadget, diantaranya adalah

  • Sebagian besar waktunya dihabiskan bersama gadget
  • Mengabaikan panggilan orang lain, entah itu temannya atau bahkan orangtuanya
  • Sering menunda pekerjaan, karena lebih intensif dengan gadgetnya
  • Tidak nyaman disaat berada dalam interasi dengan banyak orang
  • Hampir setiap saat selalu melakukan cek terhadap gadgetnya
  • Tampak sekali kegelisahannya apabila tidak ada gadget.
  • Untuk anak-anak, gadget mempengaruhi pola tidur dan pola waktu mereka. Menggunakan gadget lebih banyak sembunyi-sembunyi dalam kamar, mengganggu pola tidur mereka.
  • Belajar menjadi lebih lambat
  • Anak berubah menjadi lebih temperamental
  • Enggan berkumpul bersama kawannya
  • Saat berada di sekolah, menjadi lesu dan juga lambat mengikuti pelajaran
  • Merusak struktur jaringan otak

Dr. Anggia Hapsari, SpKJ(K) memberikan advis, apa yang bisa dilakukan oleh orang tua ketika anaknya kecanduan gadget, diantaranya:
  • Secara perlahan dan bertahap, kurangi frekuensi anak bermain gadget.
    Secara perlahan dan bertahap, kurangilah waktu anak bermain gadget, jika sebelumnya bermain sekitar 5 - 6 jam sehari, ubahlah menjadi  4 jam, sampai pada 2 jam. Karena 2 jam inilah batas maksimal bagi anak bersentuhan dengan gadget. Hanya bermain 2 jam sehari, kemungkinan kecil saja anak bisa kecanduan.
  • Jadilah  teladan
    Orang tua juga sebaiknya berlapang dada untuk tidak selalu bermain gadget tanpa aturan waktu. Percuma saja kita memberikan aturan pada anak, jika kita sendiri tidak mengikuti aturan yang kita buat.
    Dr Anggi dalam keluarganya memberikan aturan bahwa seluruh anggota keluarga tidak memegang gadget saat di meja makan.
  • Fasilitasi anak dengan permainan pengganti
    Mungkin anak bisa saja diajak pesiar naik gunung, berselancar di pantai, atau aktifitas lain yang memungkinkan anak untuk melihat dunia yang berbeda, dunia yang  sesungguhnya, dunia nyata, bukan dunia maya.
  • Jangan lupakan sosialisasi dengan teman sebaya
    Dengan bermacam cara, kondisikan anak tetap bisa bermain dengan teman sebaya. Bisa dengan cara mengundang teman-temannya bermain di rumah, atau temani anak untuk bermain ke rumah teman sebayanya.
  • Anak hanya meminjam gadget
    Anak sebaiknya tidak memiliki gadget sebelum usianya memang membutuhkan. Anak belum saatnya diberi atau dibelikan gadget, karena gadget adalah fasilitas untuk orang tua.
    Tanamkan pada anak, bahwa dia hanya meminjam saja, dengan cara itu, orang tua akan memiliki otoritas penuh sebagai pengendali anak terhadap gadget.
Seorang entah dia manusia dewasa maupun anak-anak yang mengalami gangguan kejiwaan yang serius disebabkan oleh gadget, bukan tidak mungkin akan membutuhkan penanganan yang serius oleh para ahli yang berkompeten di bidangnya.

Dalam upaya ini, memang dibutuhkan kesadaran, pengertian dan kelapangan jiwa orang tua, bahwa jika anak sudah kecanduan gadget, satu-satunya yang bisa memulihkan adalah orang tua. 

Berbekal rasa sayang pada anak, ketelatenan, kesabaran dan bekerjasama dengan para ahli yang berkompeten, maka seorang anak bersama-sama dengan orangtuanya diharapkan bisa keluar dari kondisi kecanduan gadget.

Pada dasarnya, kecanduan gadget akan berpengaruh buruk terhadap fisik, mental kejiwaan penggunanya. Gangguan ketagihan gadget ini bisa mengidap siapapun dan tidak memandang usia. Bukan anak-anak saja yang bisa mengalami kecanduan gadget, namun para remaja, anak-anakpun bisa mengalaminya.
Nara sumber kedua adalah   Mrs. Marybetts Sinclair, LMT, selaku Trainer Mom n Jo dari Amerika.  Mrs. Marybetts memberikan berbagai macam tips bagaimana memposisikan fisik pada saat berada di depan gadget, khususnya laptop. Diantaranya adalah bagaimana menjaga penglihatan kita selagi melakukan pekerjaan dengan jarak dekat.

  • Pada setiap akhir halaman, sempatkanlah untuk melihat ke arah atas, ke arah yang lebih jauh, berkediplah beberapa kali, tarik nafas dalam-dalam.
  • Membaca buku atau lattop, sebaiknya berada pada kemiringan 20 derajat, dengan jarak sejauh siku-siku ke buku jari. Jarak ini, cukup ideal untuk mencegah tegang pada otot siliaris, dan untuk menghindari leher dan punggung akan maju ke depan.
  • Bagi anak-anak, jangan biasakan untuk melihat lebih dekat , obyek tulisan atau gambar yang menonjol.
  • Hindarkanlah ketegangan pada bagian bahu.
  • Setiap 15 menit, lakukan jeda dan beristirahatlah selama 1 menit. Beristirahatlah dengan berdiri, berputar, goyangkan bahu, melempar bola ke atas dan ke bawah.
  • Hentikan komputer secara berkala menggunakan Office Athlete atau Stress Away.
    ( http://www.ergotrading.net/officethlete ) ( www.stressaway.com )
  • Tutuplah mata ketika sudah lelah.
  • Penerangan yang benar pada area kerja juga akan membantu mengurangi ketegangan pada mata.
  • Pijat titik-titik tekanan di sekitar mata
  • Tetap berusaha mencari hiburan seperti mendengarkan musik, olahraga, menikmati keindahan alam, menjalankan bergaia macam hobi dan lainnya.

Suasana terapi

Pijitan pada bagian tubuh tertentu

Pada kesempatan itu juga dilakukan peragaan terapi yang dilakukan langsung oleh Mrs. Marybetts, dimana seorang anak yang merupakan klien Mom n Jo menjalani terapi gadget

Mom n Jo memiliki layanan treatment berupa pijitan di bagian tubuh tertentu, sebagai solusi bagaimana agar anak-anak atau orang dewasa yang sudah kecanduan gadget bisa pulih lagi kondisinya.

Treatment pijit disediakan bagi anak-anak yang masih berusia 2 tahun maupun orang dewasa, dengan frekuensi sekitar 2 - 3 kali seminggu, atau fleksibel yaitu disesuaikan dengan kebutuhan tergantung pada kadar kecanduan gadgetnya.

Tentunya treatment ini dijalankan dengan teratur, berkesinambungan, dan terutama dibutuhkan adalah semangat dan kesabaran untuk sembuh. Kenapa? karena pemberian treatment melalui pijit tentunya bukan sesuatu yang instan.

Melalui kesabaran pada proses itulah, lambat laun kecanduan gadget akan hilang.

Persoalan anak kecanduan gadget sebenarnya sudah menjadi perhatian yang serius di beberapa negara, sehingga melibatkan beberapa institusi untuk mengatasi hal ini.

Seperti dicontohkan di sebuah sekolah, dimana mereka mengupayakan sebuah pendekatan baru dengan mengembangkan Active Brains Program, yang menggunakan peralatan kinestetik dalam kelas, sehingga anak-anak bisa bergerak selama mereka dalam kelas.  

Contoh lainnya adalah sebuah kawasan sekolah di kota Naperville, Illinois telah membuat pelajaran olahraga  fitness dan memiliki 18 macam cabang olahraga yang dapat dipilih oleh tiap anak.

Beberapa cabang olahraga tersebut misalnya adalah wall climbing, riding running, angkat beban, olahraga mesin, sepak bola, games dance revolution, mendayung sampan.

Program tersebut bertujuan untuk menstimuli otak anak melalui gerakan.

Pilihan olahraga ini terbukti meningkatkan prestasi siswa di sekolah tersebut, sehingga memperoleh berbagai penghargaan.

Mrs Marybetts memperagakan cara duduk yang salah



Ketika kehadiran gadget di tangan anak-anak kita, bahkan di tangan orang dewasa sekalipun, lalu menjadi buah simalakama, maka hendaknya sebagai orang tua kita bijak melakukan pilihan.

Karena ketika keliru menentukan sikap dan pilihan, taruhannya adalah masa depan dan kehidupan seorang anak manusia.

15 komentar:

  1. PR sebagai ortu y mba agar tidak bebas dalam memberikan fasilitas gadget :)
    nice sharing

    BalasHapus
  2. Keren, alhamdulillah anak saya belum kecanduan gadget, semoga jangan.

    BalasHapus
  3. batasi gadjet perlu contoh dulu dr ortunya ya mba. nanti anak2 akan mengikuti

    BalasHapus
  4. ya bener tuh batasi gadget untuk anak, eh tapi kalau harus nyontoh dari ortu bagaimana para blogger ya.. bukannya blogger berteman dengan gadget. hehe

    BalasHapus
  5. Aku suka miris lihat anakku sendiri sulit lepas dari gadget. Aku takut matanya sakit.

    BalasHapus
  6. Kasihan kalau mereka bergadget terus. Selain nanti matanya sakit, anak jadi kurang bergerak.

    BalasHapus
  7. Terapi yang sangat bermanfaat. Selamatkan anak dari ketergantungan gadget

    BalasHapus
  8. Buat dewasa bisa juga kan? Aku berminat

    BalasHapus
  9. Kayanya aku butuh banget nih. Hampir gak bisa lepas dari gadget. Tak heran kalau kaca matanya tebal. -_-

    BalasHapus
  10. Selain buat ibu, bisa ndak terapinya?

    Salam,
    Aci

    BalasHapus
  11. ternyata salah ya.. aku sering memberikan gagdet kepada anakku secara bebas

    BalasHapus
  12. bener banget, nih. anak seringkali meniru orang tua. Percuma juga kita melarang anak untuk jangan berlama-lama gadgetan tapi orang tua malah gak bisa lepas dari gadget

    BalasHapus
  13. keren acara mom n jo nya :)... ini salah satu spa fav ku mbak... mereka jg ada nyediain paket spa stlh melahirkan utk ibunya... aku ksh kado itu untuk mbak iparku, dan dia bilang perawatan yg didapat komplit bgt dan bikin bdn2 bener2 seger abis spa..

    BalasHapus
  14. huaah..bener banget gadget kini sudah merajai hampir di setiap aktifitas sebagian besar orang

    BalasHapus
  15. Wah, perlu aku kasih tau nih buat temenku yang ndak bisa lepas dari gadget :3 Makasih mbaknya

    Salam,
    Gianta

    BalasHapus