Senin, 30 Oktober 2017

Mengenali Gejala Stroke dan Mencegahnya Dengan Pola Hidup Sehat

Kabar duka muncul di WAG teman kuliah, mengabarkan salah satu kawan yang wafat, disebabkan penyakit stroke yang sudah lama diderita. 

Beberapa hari lalu, seorang kawan SMP juga dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa, dan lagi-lagi juga terkena sakit stroke. Salah seorang kerabat, saat ini juga berada dalam kondisi lumpuh, pelo, disebabkan stroke.

Akhir Oktober kemarin, aku jumpa kawan kuliah yang sejak kami lulus kuliah belum pernah ketemu. Senang dong pastinya.


Ternyata rasa senangku tidak sesuai harapan, aku malahan jadi sedih, karena kawanku sakit, dengan gejala terkena stroke, muka sedikit mencong. Duuh sedih, prihatin, melihat kawan dalam kondisi sakit.

Rasanya kok sekarang ini sering banget dengar seorang yang wafat terkena stroke, sampai berpikir dan bertanya juga, apakah sekarang ini begitu mudahnya seorang terkena stroke?


Para pendukung acara seminar

Tentang stroke

Senang rasanya diundang di acara Media Briefing Hari Stroke Sedunia pada tanggal 2Oktober lalu. Acara ini diselenggarakan oleh Ditjen P2P ( Pencegahan dan Pengendalian Penyakit ) Kementrian Kesehatan RI.

Nara sumber yang hadir, adalah Prof. Dr. dr Hasan Machfoed Sp. S(K) MS, Dr, dr.  Lily Sulistyowati, Ditjen P2P Penyakit Tidak Menular, dr Taufiq, dan penyintas stroke. 

Secara sederhana, stroke adalah penyakit yang mengenai pada pembuluh darah pada otak yang mengalami penyempitan/ penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak. 
Akibat lebih jauh, terjadinya kerusakan sel saraf, yang makin lama sel saraf akan mati, disebabkan pembuluh darah yang terserang tidak bisa membawa oksigen dan nutrien ke otak.

Nah ketika sel saraf sudah mati, maka akan membawa akibat yang tampak, atau gejala, yang gejala ini berbeda pada setiap orang, diantaranya kelumpuhan wajah atau anggota badan, bicara tidak lancar, bicara tidak jelas ( pelo ), perubahan kesadaran, gangguan penglihatan dan lain-lain.

Itulah kenapa, pada titik tertentu penyakit stroke bukan hanya membuat penderitanya saja yang mengalami depresi bahkan putus asa, namun keluarga dari penderita sroke juga bisa mengalami hal yang sama.

Stroke juga dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan yang akan menurunkan status kesehatan & kualitas hidup penderita stroke, selain tentu saja menambah beban biaya kesehatan yang ditanggung oleh keluarga maupun negara.

Di Indonesia, kecenderungan prevalensi stroke mengalami kenaikan dari 8,3 per mil pada tahun 2007, menjadi 12,1 per mil di tahun 2013 ( Rikerdas 2013 ). 



Prof. Dr. dr Hasan Machfoed Sp. S(K) MS, Neurolog dari Universitas Airlangga menyampaikan dalam presentasenya, yaitu secara garis besar kondisi pasien stroke, terbagi dalam 3 kelompok.

Kelompok pertama mereka yang sembuh total dari stroke, kelompok ke dua adalah mereka yang meninggal, disebabkan oleh stroke. Lalu kelompok yang ke 3 adalah mereka yang meninggalkan gejala sisa, seperti lumpuh, tidak bisa bicara, mulut mencong.

Stroke memiliki faktor resiko. Ada yang bisa diubah, ada yang tidak bisa diubah lagi

  • Faktor resiko yang tidak dapat diubah, misalnya umur, jenis kelamin, ras, riwayat keluarga.
  • Faktor resiko yang bisa diubah, diantaranya merokok, kurangnya aktifitas fisik, pola makan yang buruk, konsumsi alkohol, kadar kolesterol yang tinggi, obesitas, dan beberapa lagi.
Selain itu, gangguan irama jantung ( fibrilasi atrium ) juga meningkatkan resiko stroke lima kali, dengan gejala bisa berupa: 
  • Sakit kepala, pusing berputar
  • Berdebar, denyut jantung cepat & tidak teratur
  • Sesak nafas, lemas
  • Nyeri dada
Jika di masa dahulu stroke hanya mengenai pada kelompok umur dewasa hingga lansia, saat ini stroke bisa menyerang pada semua kelompok umur.

Bahkan Sample Registration System ( SRS ) Indonesia tahun 2014 menunjukkan stroke merupakan penyebab kematian utama, sebesar 21,1 persen dari seluruh penyebab kematian untuk semua kelompok umur.

Sumber gambar P2PTM Kemenkes


Hasil gambar untuk foto otak terkena stroke menurut kemenkes

Sumber gambar P2PTM Kemenkes


Pengendalian stroke


Bagi mereka yang sudah menderita atau menyandang stroke, ada upaya yang bisa dilakukan agar terhindar dari serangan stroke yang berulang:
  • Memeriksakan kesehatan secara berkala
  • mengatasi penyakit, dengan pengobatan yang tepat
  • Lakukan diet sehat dengan gizi seimbang
  • Melakukan aktifitas fisik yang aman
  • Menghindari merokok, minum minuman beralkohol & zat karsinogenik
Bagaimana mengenali stroke? ada tips bagaimana mengenali gejala & tanda-tanda stroke yaitu:
  • Senyum tidak simetris, ( mencong ke satu sisi ), tersedak, sulit menelan air minum secara tiba-tiba.
  • Gerak seluruh anggota tubuh melemah tiba-tiba.
  • BicaRa pelo/ tiba-tiba tidak dapat bicara/ tidak mengerti kata-kata/ bicara tidak nyambung.
  • Kebas, atau baal atau kesemutan seluruh tubuh
  • Rabun, pandangan satu mata kabur, terjadi tiba-tiba
  • Sakit kepala hebat yang tiba-tiba muncul dan tidak pernah dirasakan sebelumnya, gangguan fungsi keseimbangan, gerakan sulit dikoordinasi.

Periode emas penanganan stroke

Kita tentu nggak ingin kan, jika mendadak dihadapkan pada serangan stroke? baik itu diri kita, atau orang lain? pasti lah.

Hanya siapa sih yang bisa meramal dengan tepat? siapa tahu satu saat kita dihadapkan pada situasi yang tak kita harapkan? 

Nah, periode emas adalah waktu yang sangat berharga untuk penanganan stroke, hanya kurang dari 4,5 jam lho, sejak pertama muncul gejala dan tanda, sampai dilakukan penanganan di Rumah Sakit.

Maka penderita harus sudah di rumah Sakit kurang dari 2 jam, sementara proses pemeriksaan sampai pengobatan membutuhkan waktu maksimal 2,5 jam. 

Bila terlambat menangani, maka stroke akan menjadi lebih parah bahkan akan beresiko kematian atau cacat permanen.

Bagaimana mencegah stroke?


Beberapa langkah bisa dilakukan sebagai pencegahan terhadap stroke. Pencegahan primer, pencegahan ini biasa dikenal dengan CERDIK, yaitu:
    •  Cek kesehatan
    • Enyahkan asap rokok
    • Rajin aktifitas fisik/ olahraga
    • Diet sehat gizi seimbang
    • Istirahat cukup
    • Kelola stres
    Sedangkan pencegahan sekunder adalah melakukan pengobatan terhadap faktor resiko yang sudah ada sebelumnya seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, gangguan irama jantung, penyumbatan karotis ( pembuluh darah besar di leher ), gagal jantung kongestif ( sesak nafas, kaki bengkak, kelemahan ) & harus berhenti merokok.

    Badan ini kan titipan Tuhan yang mesti dijaga, jadi yuk lakukan pola hidup sehat, dengan konsumsi makanan bergizi, banyak aktifitas, cek kesehatan secara berkala.




    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar