Jumat, 13 April 2018

Calon Pasangan Hidupmu Mengidap Penyakit?



Hasil gambar untuk daun kering di kaboompics
Foto, by Pixabay


Calon pasanganmu ternyata berpenyakit? apa yang akan kamu lakukan? apakah kamu akan serta merta meninggalkannya? atau kamu akan tetap bersetia menjalin kasih sayang, sampai menunggu saat bahagia itu tiba.

"Mas, kenapa kamu memilih perempuan itu untuk jadi istrimu?, kenapa enggak pilih yang berjilbab?".
Pertanyaan itu dilontarkan sepupu aku, ketika anak laki-lakinya datang mengenalkan seorang gadis, dan kepada ibunya menyampaikan, jika gadis itu piihan hatinya sudah mantap akan menikah dengan gadis itu.

Sepupu aku memang masih menganggap jilbab salah satu ukuran untuk menilai 'kebaikan' seseorang, sehingga dia terganggu ketika anaknya mengenalkan seorang gadis yang tak berkerudung sebagai calon istri.

Apa jawaban anak laki-laki semata wayangnya? "Bu, sudah tiga kali aku dekat dengan 3 perempuan, semuanya mengenakan jilbab, tapi ketika aku buka kondisi kesehatanku pada mereka, semuanya mundur, memilih meninggalkan aku."
"Lalu, sekarang ketika hanya dia yang mau menerima aku apa adanya, salahkah aku memilihnya bu?". Anak laki-lakinya menjawab sambil menahan tangis.

Jawaban itu membuat ibunya menangis juga, akhirnya memahami dan merestui gadis pilihan anaknya.

Ya, keponakan aku, laki-laki yang ganteng, gagah, rajin ibadah, rajin olahraga, bertanggung jawab dan bekerja mapan, banyak gadis mengidamkannya menjadi suami.

Namun, ketika tau bahwa keponakanku - sebut saja Alam - punya sakit serius, kebanyakan gadis itu mundur teratur. Alam mengidap sakit leukimia, dan membutuhkan treatment secara periodik.

Tidak mudah memang menerima situasi semacam itu, karena dalam masa treatment itu Alam harus total berada di rumah sakit, tubuhnya harus menrima tranfusi dan obat-obatan, badan juga lemas, tak bisa melakukan aktifitas apapun.

Lalu, kalau kamu, apa yang akan kamu lakukan andai saja kenal dengan laki-laki, kamu jatuh cinta, lalu sampai pada titik perjalanan ingin menikah dengannya, tetapi ternyata laki-laki itu berpenyakit? 

Tetap menyayanginya dan tak ada yang berubah? atau akan meninggalkannya? kamu boleh jawab apa saja sih,  terserah pada pilihan masing-masing.

Aku hanya ingin sedikti berbagi, bagaimana situasi psikologis orang yang sakit parah, terlebih aku juga pernah mengalaminya, baik mendampingi orang sakit parah, maupun merasakan sendiri rasanya sakit parah

Yuk coba kita lihat situasi psikologis orang sakit, dan sakit parah. Ini bukan unuk meminta belas kasihan ya, hanya sekedar berbagi pengalaman.

  • Sedih.
    Iya, siapa yang tak sedih ketika mengalami sakit parah, seperti leukimia, kanker?. Sedih banget, dunia terasa gelap, maut serasa sudah membayang di pelupuk mata.  Wajah-wajah kesayangan berlintasan, serasa mau ninggal mereka. Kesedihan itu sangat kuat, susah sekali hilang.
  • Marah
    Pada siapa marahnya? aku pernah merasakannya, ketika sakit, marah pada diri sendiri.  Muncul pertanyaan, kenapa aku yang sakit begini? apa salahku? kenapa orang lain begitu sehat? dan berbagai kemarahan lain. Bahkan ada satu titik, dimana merasa marah pada ketentuan hidup, pada takdir, pada Tuhan.

  • Sensitif
    Rasa tidak percaya bahwa kita kena sakit, menimbulkan penolakan dalam hati, dan ini berlangsung dalam alam bawah sadar. Penolakan terhadap kenyataan itu menimbulkan emosi yang tak terkontrol, sensitif, mudah tersinggung, mudah marah, murung terus.

  • Kesepian
    Ya, orang yang di vonis sakit parah, secara tiba-tiba akan merasakan sepi yang mendalam, sendirian di pojok dunia, merasa tidak ada teman satupun. Merasa tak ada yang akan bisa memahaminya, merasa benar-benar sendirian.

  • Tak ingin dikasihani, tetapi ingin ditemani
    Nah, nggak jelas bukan? tapi memang demikian. di satu sisi tak ingin dikasihani, di sisi lain ingin ditemani karena tak sanggup menanggung beban sakit sendirian.
    Di sisi lain tak ingin orang lain tahu akan sakitnya, tetapi di sisi lain dia membutuhkan support.
    Rasa kasihan, apalagi rasa kasihan itu diekspresikan baik dalam sikap maupun tutur kata, hanya akan melukai hati orang yang sedang sakit. Jadi bagaimana? jangan tunjukkan rasa iba, sedih, kasihan.
  • Putus asa
    Putus asa, itu yang pernah aku rasakan, sesaat mendengar vonis dokter tentang sakitku waktu itu. Putus asa dirasakan oleh orang yang sakit parah, karena sudah merasa tak ada harapan lagi. Benar-benar merasa berada pada satu titik yang gelap.

Orang sakit keras membutuhkan empati yang kuat, bukan simpati, karena simpati hanya cenderung pada belas kasihan, tetapi empati adalah pemahaman dan kemampuan menempatkan diri di posisi si sakit.

Tidak mudah memang mendampingi orang sakit parah, terlebih mensupport psikhisnya, dan mungkin menjadi sulit bagi mereka yang berada di ambang pernikahan.

Sebuah pilihan dilematis yang tak mudah ya, tetapi memilih itu sebuah keharusan, justru agar tidak saling menyakiti lebih lama.

Pilihan kembali pada masing-masing orang, dengan konsekuensi logisnya. Memilih meninggalkannya atau memilih mendampingi terus, semua memiliki konsekuensi.



3 komentar:

  1. sedih bgt yah, kalo udah sayang mah pasti akan setia

    BalasHapus
  2. Bener, rasa sayang bisa menyederhanakan masalah, termasuk sakit

    BalasHapus
  3. kalau menurut saya, kalau pasangan kita mengidap sebuah penyakit, maka kita harus menerima dengan baik karena sudah pasti ada hikmah dibaliknya

    BalasHapus