Jumat, 03 Oktober 2014

Mahabandhana di GKJ

Rasanya sangat senang ketika menyaksikan gelaran pentas Wayang Orang Sriwedari Solo di Gedung Kesenian Jakarta.
Bagaimana tidak, sudah sekian puluh tahun tidak menyaksikan gelaran-gelaran tradisional, setelah terakhir kali menyaksikan pentas Hanoman Obong di candi Prambanan pada sekitar tahun 2000.

Mahabandhana sebuah kisah tentang sebuah kelicikan yang ditebar dengan lembut dan manis, sehingga memperdaya siapa saja, yang mengakibatkan negara Ngastinapura tak henti-hentinya dilanda konflik diantara mereka sendiri.

Pentas Mahabandhana tersaji dengan apik, tata panggung yang megah, pemain-pemain yang profesional, dan ciri khas pentas wayang adalah karakternya sangat tegas diujudkan bukan hanya dalam bentuk dialog, akan tetapi kostum, suara, ekspresi benar-benar simbolis, sebuah seni dengan tataran rasa dan pemikiran yang tinggi.

 
Bagi penonton yang tidak memahami bahasa Jawa, pada awal acara dibacakan sinopsisnya dalam bahasa Indonesia oleh pembawa acara, sehingga memudahkan penonton untuk memahami alur cerita. Suguhan seni tari yang sangat indah, seperangkat gamelan yang dibawakan oleh seniman-seniman yang piawai, tontonan ini sangat memukau.

Menikmati gelaran Wayang Orang dengan lakon Mahabandhana ini kita dihadapkan pada sebuah cermin berbagai kejadian yang banyak terjadi di sekeliling kita, di negeri ini.

Para pelamar Dewi Kunti dikisahkan adalah raja-raja dari beragam profesi, dari raja yang proyeknya banyak, raja rumahnya juga bertebaran dimana-mana, sampai pada bakul lenga, atau penjual minyak, mewakili karakter para pejabat di negeri ini yang kekayaannya menumpuk.
 
Dialog lain, yaitu dialog diluar layar saat Haryo Suman berbincang dengan para seniman penabuh gamelan, para sinden. Haryo Suman mengucapkan dialog seperti :"Nek kowe ngeyel, aku walk out lho.", tak pelak mengundang tawa penonton. Karena mengingatkan penonton pada kejadian yang masih sangat segar, yaitu banyaknya perilaku walk out di kalangan anggota dewan.

Sangat istimewa, sebuah pentas panggung yang masih berbasiskan budaya tradisional, digelar di ibukota, dimana budaya massa yang datang menyerbu dari seluruh penjuru bumi. Pentas ini bisa menjadi pencerahan, bisa menjadi seuah ruangan yang segar bagi masyarakat, terutama masyarakat ibukota.

6 komentar:

  1. belum pernah lihat pergelaran langsung , pasti beda ya kalo live, biasanya lihat di tv aja he

    BalasHapus
  2. Wahhh...asik bener, bisa nonton ginian! Ulasannya bagus Mbak, di publish ke Viva harusnya Mbak, tapi sebelum masuk di blog. Ditunggu pengalaman lainnya yaa... agar menari terus penanya, hehe :)

    BalasHapus
  3. hmmm...senangnya bisa melihat pagelaran seni secara langsung ya Bunda. Pastinya ada greget tersendiri dibanding via layar kaca :)

    BalasHapus
  4. mba Dina, iya sih, saya juga sudah lama sekali tak nonton pentas tradisional live begini, indah banget makasih mba sudah mampir

    BalasHapus
  5. mb Oty, makasih ya mba, sudah mampir, aku beum sempat jalan-jalan lagi ke blog mba, masih rame dirumah, banyak saudara

    BalasHapus
  6. mba Cristanty Putriarty, hehehe, iya, seneng juga ada kesempatan melihat pentas panggung, memang beda bener di 'rasa'. Nonton langsung kita lebih bisa menyerap pesan moralnya
    Makasih mba, sudah mampir

    BalasHapus