Senin, 30 Maret 2015

Sepenggal Kenangan Kue Binteng Jahe

Perlahan, Tania menapakkan kakinya di lorong itu, pandangan matanya menelusuri rumah-rumah yang berderet satu demi satu. Lorong  itu tak berubah, masih sama saat dia masih berusia remaja, masih sama seperti saat ditinggalkannya pindah bersama keluarganya ke ibu kota.
Bedanya, kalau dahulu jalanan yang di pijak hanya berupa tanah, sekarang sudah berubah sudah bersemen, sudah tersentuh perubahan jaman.

Rumah-rumah di sepanjang lorong, juga tidak banyak berubah, bangunan beraksitektur kuno dengan joglo di bagian depan, jendela-jendela berukuran besar, halaman rumah yang lapang dengan berbagai tanaman.
Sampailah dia di sebuah rumah sederhana, tepatnya rumah yang paling kecil dan paling sederhana diantara deretan rumah joglo di lorong itu.  Sejenak, Tania berhenti, mengumpulkan keberaniannya melangkahkan kaki dan tangannya menyentuh pintu rumah yang tak memiliki gerbang itu. Dadanya berdegup kencang, saat aroma jahe bercampur gula yang dipanggang menyentuh hidungnya, dihirupnya panjang aroma  itu, seolah menghirup seluruh masa lalunya, membawanya kembali ke masa-masa belasan tahun silam.

"Tania, ayuuk masuk!, kita buat binteng jahe !". Kata Pram saat tania tiba di rumah itu.
Mereka masuk ke rumah, dan sampai di dapur yang sempit mereka akan jongkok membantu emaknya Pram membuat binteng jahe.
Di dapur itu mereka akan membantu membentuk adonan jahe yang seperti kembang, dan memasukkannya ke panggangan. Panggangan yang dibakar dengan api arang dengan anglo, dan diatas panggangan diberi api juga, bukan seperti oven di masa sekarang.
"Bentuk binteng jahenya seperti kembang melati ya", kata Tania sambil menata kue
"Ya, melatinya berwarna coklat", jawab Pram sambil mengipasi api agar tetap menyala. Sesekali Pram mengusap peluh yang menetes di dahinya. Tania selalu tertawa kalau mendengar ucapan Pram itu.  Memang binteng jahenya seperti kembang melati berwarna coklat, karena kue yang sudah matang berwarna kecoklatan.
Setiap membantu emak Pram membuat kue binteng jahe, Pram selalu mengucapkan kata yang sama, melatinya berwarna coklat, dan Tania selalu saja tertawa mendengarnya. Dia merasa ucapan itu setiap hari selalu berbeda dan selalu terdengar jenaka, meskipun setiap kali diucapkan.
Setelah semua binteng jahe matang, Tania akan membantu mengemasnya ke dalam plastik kecil, dan memasukkanya kedalam sebuah tas rotan, agar esok pagi Pram hanya tinggal membawanya saja.
Ya, binteng jahe, kue kering yang dibuat dari campuran  terigu, jahe, gula merah dan mentega. Pram atau Pramujito, teman sekelasnya, dia sudah ditinggal ayahnya, yang wafat saat Pram masih bayi. Pram anak yang pandai di kelas, dia juga baik hati. Saat pergi ke sekolah, Pram selalu membawa makanan buatan emaknya untuk dijual di sekolahan.
Usai membantu emak, mereka akan duduk di teras samping rumah yang diterangi cahaya teplok yang tidak terang. Di tempat itu, Pram sering menceritakan keinginanya, jika suatu saat dia akan bekerja keras, dan akan membelikan emaknya oven, yang untuk memanasinya  cukup menggunakan kompor saja. Pram ingin, orang tua satu-satunya itu pekerjaanya menjadi lebih mudah dan lebih ringan.
Lalu Tania akan berkata, kalau suatu saat kelak, dia akan bisa membuat kue binteng jahe itu dengan tangannya, dan akan diberikannya kepada Pram.
Tania ingat, mereka selalu berbincang sambil memakan kerengan jahe dan segelas air putih
Sering sekali Pram mengungkapkan keinginan sederhanaya itu, sehingga Tania sudah sangat hafal.
Tania sering pergi ke rumah Pram untuk bertemu dengannya, yang entah kenapa bertemu dengan Pram membuat hatinya dipenuhi rasa bahagia. Bahkan Tania berani melanggar larangan orang tuanya bertemu dengan Pram karena menurut orang tuanya, Tania berdarah biru, tidak layak berteman dengan keluarga yang miskin.
Kebahagiaan Tania remaja membakar binteng jahe bersama Pram, harus ditinggalkannya dengan rasa pilu dan sedih, saat kedua orang tuanya harus pindah ke ibu kota karena ayahnya harus berpindah tugasnya. Sejak itulah mereka terpisah tanpa pernah bisa bertemu dan bercanda lagi.
Tania tersentak, tangisan bayi membuyarkan lamunannya, saat ini dia sudah bukan remaja SMP lagi, dia perempuan dewasa, yang karirnya sebagai sekretaris di sebuah perusahaan sangat cemerlang. tangannya menjinjing sebuah kardus berisi oven . Ya, Tania membelikan oven, seolah untuk menyembuhkan luka mereka yang harus terpisah oleh waktu, dan sebungkus binteng jahe yang telah berhasil dibuatnya.

Tania mengetuk pintu dengan sedikit ragu-ragu dan harap-harap cemas, dan sebelum kecemasannya hilang, seorang perempuan muda menggendong bayi sudah berdiri di depannya. Perempuan yang cantik, meskipun dengan penampilan yang sederhana, menyapanya.
"Maaf, ibu, mau ketemu siapa?"
"Mmm.., apakah ini rumah pak Pram?"
"Benar bu, ibu siapa? mari silahkan masuk." perempuan itu membuka pintu dan mengajak Tania masuk. Tania melangkahkan kakinya sambil memandang sekeliling ruangan. "Ruangan ini tidak berubah", kata hati Tania. kecuali menjadi lebih rapi dan lebih bersih.
"Ibu siapa?, mau ketemu suami saya?, maaf dia sedang sakit bu, dia ada di kamar."
"Sakit? sakit apa?, oh ya perkenalkan saya Tania, kawan sekolah  Pram.
"Ooh, ibu yang bernama Tania? bapaknya anak-anak sering sekali menceritakan ibu, terlebih sejak sakit ini, dia selalu mengingat ibu.", kata istri Pram dengan ekspresi yang sulit ditangkap oleh Tania. Ada rasa iba di hati Tania, terhadap perempuan didepanya itu.
"Dokter mengatakan, mas Pram terkena sakit bronchitis, akibat sering kena angin malam hari. mas Pram harus berjualan kue sampai malam hari." lanjut istri Pram.
"Mari bu, silahkan kalau bu Tania mau ketemu bapaknya anak-anak di dalam, dia tentu senang berjumpa dengan ibu."
Melewati ruang, tercium kembali aroma jahe yang wangi.
Di dalam kamar, tampak seorang laki-laki kurus,  terbaring lemah dibawah selimut yang tipis. Disamping dipan, terdapat meja kecil yang diatasnya diletakkan segelas air putih dan beberapa jenis obat-obatan. Laki-laki itu, Pram, Pramujito, tidak banyak berubah, selain badannya yang tampak kurus dan raut wajahnya yang tampak tirus, dengan beberapa kerut di seputar matanya. Kehidupan yang keras semenjak Pram lahir, telah membuat laki-laki itu tampak lebih tua dibanding usianya. Dengan isyarat, Tania melarang istri Pram yang akan membangunkan suaminya. Dipandangnya wajah laki-laki itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Iba, sedih, ada rasa kangen, ada rasa sesal dan sebagainya
Tiba-tiba Tania merasa sangat sedih, merasa ada ruang yang tiba-tiba kosong dihatinya, sehingga sejenak tidak tahu harus mengatakan apa.

Beberapa puluh menit kemudian, saat Tania sudah berada di lorong itu, dilangkahkannya kakinya perlahan, angannya  kembali ingin menyulam masa lalu. Di pelupuk matanya, masih tergambar sosok Pram yang sakit dengan badan yang kurus dan kehidupannya yang tidak berubah sejak dia masih kanak-kanak.
Kali ini, dibiarkannya air mata menetes dari pelupuk matanya, air mata yang sudah menggenang dan ditahannya agar tak runtuh. sejak dia masuk ke kamar keluarga itu.
Dibukanya tas tangannya, amplop yang berisi uang setengah dari gajinya, sudah diberikannya pada istri Pram, sedikit mengurangi rasa bersalahnya karena merasa meninggalkan Pram.
Ditinggalkannya juga binteng jahe di meja tamu, kue masa kecilnya, yang sekarang menjadi makanan kegemaran suami dan ketiga anaknya
Ditinggalkannya lorong itu dengan langkah pasti, "Selamat tinggal Pram, Pramujito.
Tiba-tiba saja, dia ingin segera pulang, memeluk buah hatinya

Binteng jahe  : kue kering yang dibuat dari campuran terigu, bubuk jahe, telur dan mentega
Teplok           : lampu minyak tanah yang berukuran kecil
Anglo            : tungku yang dibuat dari tanah liat, bahan bakarnya arang
Kerengan      : Remah-remah tipis  binteng jahe

30 komentar:

  1. aiih, kasih tak sampai ya, mba ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, bikin cerpennya sambil kelimpungan dikejar Dl, jadi ya begini nih, masih jauh dari baguus
      makasih mba Ratna, sudah berkunjung

      Hapus
  2. Mbak cerpen-cerpennya coba deh dikirim ke majalah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dik Devy, makasih sarannya ya, ini cerpen masih butuh sentuhan yang okeew, jadi belum layak tayang

      Hapus
  3. Aih... Mbak bisaan deh bikin cerpennya...kirim dooong :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mba Oty, ini baru belajar juga kok, masih jauh dari layak
      makasih ya sudah berkunjung

      Hapus
  4. Hikzzz... Sedih bacanya Mbak :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah, konfliknya masih kurang nendang mba, makasih yaa sudah berkunjung

      Hapus
  5. Mak numpuk coba 1 paragraf jgn bnyk gt trs diratain kanan kiri biar rapih

    Karakter utama desjripsi krg g ky Pram
    konflikny krng

    gt
    Tp udh bagus kok
    salam knal y mak
    :)
    @guru5seni8
    http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih butuh banyak eprbaikan, ini cerpen perdana, bikinnya dikejar DL, ajdi masih acakadut, hehe
      Makasih ya, sudah diberi masukan, makasih juga sudah berkunjung

      Hapus
  6. Huruf besar dan tanda baca masih harus di perbaiki..

    BalasHapus
    Balasan
    1. mba Iwed, tengkyuu,
      Iya, ini cerpen tantangan blog, kerjainnya mepet DL, jadi masih acakadut, hehe
      Trims ya masukkannya, dan kunjungannya

      Hapus
  7. Mak.
    Kurang lama bacanya.... andai alur lebih lama enak bacanya soalnya cerpennya bw kita terhanyut... keren mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiiih ya sudah dikunungi
      Cerpen bikinnya karena sudah mepet DL,, hehe masih butuh penyempurnaan lagi

      Hapus
  8. Udah keren maakk cerpennya, tapi masih ada yg kurang. Tapi udah berani bikin mah udah bagus :)

    BalasHapus
  9. Kue Binteng Jahe.. jadi pengen beneran saya, mbak ..
    Apalagi ada aroma yang tercium saat melewati ruang.. hmm *ngiler

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Waya, apa kabarnya? hihihi, kue itu belum kutemukan di Bogor
      Makasih mba sudah berkunjung ya

      Hapus
  10. heheheh bener mba ratna seperti kekasih yang tak sampai heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. ngarangnya sekejap mba, masih acak-acakan ya
      Makasih ya sudah pinarak

      Hapus
  11. Saya juga suka kue jahe ini
    Dulu ada nama permen TingTing jahe, juga suka
    Apik ceritanya
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. aah, ada pakde disini, hihi malu aku
      Tulisan masih jelek begini
      Maturnuwun sudah pinarak

      Hapus
  12. Kasih tak sampai atau cinta lama bersemi kembali ya mbak..? Seru ceritanya nih..!

    BalasHapus
    Balasan
    1. aah, ceritanya masih belum berasa dik, makasih ya sudah mampir

      Hapus
  13. Jadi pas kerumahnya itu gak tau kalau PRam udah menikah ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, mba Lidya, begitulah, cerita masih kurang greget ya
      makasih ya sudah berkunjung

      Hapus
  14. terima kasih telah berbagi info....
    salam kenal dan salam sukses......

    BalasHapus
  15. bergegas mencari tisu aku, bun T_T

    BalasHapus
  16. makasih bos tentang infonya dan salam sukses

    BalasHapus
  17. makasih bos infonya dan semoga bermanfaat

    BalasHapus
  18. terimakasih gan tentang infonya dan salam sukses

    BalasHapus