Senin, 01 Mei 2017

Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan, dan Tantangan Kesehatan Jiwa Perkotaan



Kesehatan jiwa dan kesehatan fisik tak bisa dipisahkan, karena apalah artinya badan sehat tetapi jiwa tak sehat. Pernah kan mendengar bahkan menjumpai orang dengan gangguan kejiwaan? pasti pernah, bahkan mungkin ada di dekat kita saja.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa sekarang ini ada indikasi ada peningkatan jumlah penderita gangguan jiwa, terutama di perkotaan, dikarenakan berbagai hal.

Ya, di perkotaan sekarang banyak dijumpai kasus-kasus gangguan kejiwaan. tak usah jauh-jauh, di sebuah wilayah di propinsi Banten, yang sangat dekat dengan ibukota negara ini masih ditemukan kasus pemasungan yang dialami oleh seseorang yang mengalami gangguan jiwa.

Itulah kenapa RS Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta memiliki program untuk melakukan penjemputan pada penderita gangguan jiwa, untuk dilakukan perawatan di RS Jiwa.

Tentu saja mereka yang dirawat adalah mereka yang memiliki domisili jelas dibuktikan dengan KTP, dan memiliki keluarga. 

Pernah dengar RS Jiwa Grogol kan? Nah, kami kemarin para blogger mendapatkan undangan dalam rangka memperingati ulang tahun RS Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan.

Tema yang diusung adalah "Seratus limapuluh tahun setia memberikan pelayanan kesehatan jiwa, terus menjawab tantangan kesehatan jiwa perkotaan". 

Kenapa perkotaan? karena lokasi RS Jiwa dr. Soeharto Heerdjan yang berada di pusat kota, di ibu kota negara, dituntut untuk mampu memberikan pelayanan pada kesehatan jiwa perkotaan.

Banyak kasus yang berhubungan dengan kesehatan jiwa terjadi di wilayah perkotaan atau wilayah yang dekat dengan perkotaan.

Pada awal acara, kami diajak untuk keliling di sebagian ruangan, baik ruangan tempat para klien ( sebutan untuk penyandang gangguan kejiwaan ) melakukan praktek, maupun ruangan yang didalamnya memajang karya para klien.

Kami menuju ruang Rehabilitasi Medik Psikiatri, yaitu sebuah ruang dimana para klien diberikan terapi rehabilitasi. Ruang Day Care digunakan untuk klien yang datang pada pagi hari, dan sore hari kembali ke rumah masing-masing.

Salah satu paviliun, yang adem

Proses rehabilitasi yang dijalankan adalah

  • Tahap Persiapan, meliputi seleksi, terapi kerja, vocational training ( lapangan pekerjaan ), dan psikoterapi yang ditujukan bagi pasien dan keluarga pasien.
  • Tahap Penyaluran, yaitu mempersiapkan klien kembali ke keluarganya,kerjasama lintas sektoran dan Day Care.
  • Tahap pengawasan yang meliputi pelayanan after care, melakukan home visit, dan bimbingan konseling psikoetrapi untuk meningkatkan taraf penyesuaian diri pasien, setelah mereka dipulangkan.
Pelaksanaan rehabilitasi dilakukan selama dua kali pertemuan, diawali dengan seleksi sebanyak lima kali pertemuan yang melibatkan dokter umum, psikiater, pekerja sosial dan perawat.

Untuk persiapan kemandirian dilaksanakan enampuluh kali pertemuan, sementara pelaksanaan aktifitas sebanyak duapuluh kali.

Kami memasuki ruangan dimana di sana dipajang hasil karya para klien, berbagai macam kerajinan tangan menghiasi almari pajangan. Di ruang lain terlihat kesibukan peserta day care dengan berbagai aktifitas, seperti membuat telur asin, membuat roti.

Rehabilitasi diharapkan dapat menjadikan para klien tersebut memiliki bekan ketika nantinya mereka harus kembali ke masyarakat. Bekal ketrampilan itu akan menjadi bermanfaat agar mereka tetap survive.

Sebagian buah karya klien di 

Talk show tentang kesehatan jiwa

Setelah kami diajak berkeliling, maka kamipun mendengarkan diskusi dengan beberapa nara sumber, Bapak Budi Putra, seorang jurnalis, blogger senior, Dr. dr. Suzy Yusna Dewi SpKJ ( K ), dan dr. Nova Riyanti Yusuf. Pak Budi menyatakan bahwa perkembangan media sosial yang sangat cepat belum diimbangi dengan kapasitas penggunanya.

Kualitas konten yang semakin menurun sekarang ini menjadi fokus yang harus diperhatikan, karena dengan mudahnya seseorang menshare berita yang belum jelas kebenaranya. inilah sebabnya kenapa sekarang ini begitu banyak tersebar pemberitaan hoax. 

Dr. dr. Suzy Yusna Dewi, SpKJ ( K ), seorang psikiater anak sebagai pembicara ke dua banyak menyampaikan bagaimana tentang adiksi terhadap gadget, terhadap situs-situs porno, dan berbagai akibatnya. 

Concern RS Jiwa Soeharto Heerdjan terhadap kesehatan jiwa perkotaan menajdi landasan bagi rumah sakit itu untuk terus bergerak, menjalankan tugasnya, menerima dan merawat orang-orang yang terindikasi mengalami gangguan jiwa.

Pembicara lain, yaitu dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ yang merupakan Ketua PDSKJI DKI Jakarta, mantan anggota DPR, menyampaikan paparan yang berkaitan dengan berbagai diskriminasi sosial pada penyandang gangguan jiwa bahkan stigma negatif yang dikenakan pada mereka.

Bapak Budi Putra


Dr. dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ ( K )



dr Nova Riyanti Yusuf SpKJ

Blogger yang merupakan pemilik blog atau pemilik media diharapkan bisa mengcounter pemberitaan negatif tentang para penyandang gangguan jiwa. Sesuai dengan UU No.18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa yang mesti disosialisasikan.

Dalam UU tersebut dijelaskan bahwa Upaya kesehatan jiwa adalah setiap kegiatan untuk mewujudkan derajat kesehatan jiwa yang optimal bagi setiap individu, keluarga dan masyarakat dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang dilakukan secara menyeluruh dan terpadu dan berkesinambungan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/ atau masyarakat.

Berbagai upaya tujuan promotif yang dapat dilakukan sesuai dengan UU No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.

  • Mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat secara optimal.
  • Menghilangkan stigma, diskriminasi, pelanggaran hak asasi ODGJ sebagai bagian dari masyarakat.
  • Meningkatkan pemahaman, penerimaan dan peran serta masyarakat terhadap kesehatan jiwa.
Sudah semestinya jika seluruh unsur yang ada di masyarakat membantu mensosialisasikan, bahwa seseorang yang memiliki gangguan jiwa, itu bisa disembuhkan.

Seseorang dengan gangguan kejiwaan yang sudah dinyatakan sembuh dan kembali ke masyarakat, memiliki hak yang sama di masyarakat. Sudah selayaknya mereka diterima seperti warga biasa, diajak untuk bekerja bersama di masyarakat.

Media massa juga memiliki tugas untuk melakukan pemberitaan, penyiaran, artikel dan/ atau materi yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan kesehatan jiwa. Kondusif adalah materi tidak mengandung unsur kekerasan etrhadap orang lain atau diri sendiri. Tidak adanya unsur pornografi dan tidak mendukung penyebarluasan narkotika, psikotropika dan zat adiktif.

Pada intinya, diharapkan seluruh unsur dalam masyarakat bahu membahu untuk menciptakan situasi yang positif untuk mencegah, mengurangi berbagai faktor yang bisa menyebabkan munculnya gangguan kejiwaan pada seseorang.

13 komentar:

  1. Aktual sekali! Yuk kita rangkul orang-orang yang memiliki masalah kejiwaan karena mereka pny hak yg sama dengan kita! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, jangan sampai malah kita ikut mendiskriminasikan mereka.

      Hapus
  2. Informatif sekali. ODGJ itu bukan orang gila atau yang seringkali kita juluki mereka dengan 'stress' tersebut. Aktual nih!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, pengertian kata gila orang awam amsih keliru

      Hapus
  3. Jadi melek RSJ kalo gini aku mba, tahu kegiatan apa saja yang dijalani
    thanks mba buat ilmu tambahan beginian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mba, aku juga baru ngerti setelah kunjungan ini

      Hapus
  4. Stigma negatif masyarakat kepada orang dengan penyakit jiwa masih tinggi. Padahal mereka punya hak yang sama untuk diperlakukan dengan baik dan sembuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, kita tak boleh melakukan diskriminasi sama mereka

      Hapus
  5. Selama kuliah di Psikologi saya jadi kenal ttg RSJ, bahkan sempat ngobrol dengan mereka yang sudah dinyatakan sembuh. Ada rasa sedih yang saya lihat dari mereka yang sudah bisa diajak ngobrol dan betul mba lingkungan kurang mampu menerima mereka yang tadinya mengalami gangguan kejiwaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, padahal lingkungan punya peran paling enting agar mereka kembali normal

      Hapus
  6. sebelumnya minim sekali pengetahuan ttg ODGJ...sekarang jdi tau deh bgaimana seharusnya memperlakukan mereka..nice info mbakk...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, aku juga baru ngeuh bener setelah kunjungan

      Hapus
  7. orang yang menderita gangguan kejiwaan belum tentu gila ya mba

    BalasHapus