Jumat, 16 November 2018

Menjadi Sahabat Anak, di Era Industri 4.0

Halo, assalamu'alaiku, apa kabar kamu? semoga dalam keadaan baik-baik, sehat dan jangan lupa, bahagiakan diri sendiri, setuju kan?

Yuk berbagi tentang keluarga, kaluarga kamu, keluarga aku, keluarga di sekitar kita, keluarga siapapun di Indonesia, ciee.

Saat ini, Indonesia memasuki era industri 4.0, dan kita tahu kan, sekarang ini nyaris semua aktifitas kita tak bisa lepas dari digital, dan hal ini tak lepas dari perkembangan global berkaitan dengan majunya teknologi informasi saat ini.





Diskusi dengan tema industri 4.0 dan membangun penguatan keluarga inilah yang dibahas di acara gathering blogger dengan BKKBN pada tanggal 14 November 2018. Nara sumber yang hadir, Bapak Dr M. Yani M.Kes, PKK , Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan keluarga BKKBN, bapak Dr. Pribudiarta Nur Sitepu, sekretaris KPP dan PA, dan psikolog keluarga sekaligus seorang dosen, Ibu Roslina Verauli .

Di era insdustri 4.0 ini perubahan terjadi di hampir semua lini kehidupan, dan tak bisa dicegah, suka tidak suka, mau tidak mau, perubahan itu fakta dan semua harus bisa mengikutinya jika tidak mau tergilas jaman.

Intinya, era industri 4.0 adalah era dimana nyaris semua aktifitas manusia, di hampir setiap lini kehidupan, menggunakan teknologi dengan segala macam jenisnya.

Sebagian masyarakat mengikuti dan menikmati perubahan itu, diantaranya dengan tingginya angka pengguna internet di Indonesia, yang suka tak suka, itulah salah satu perubahan di era industri 4.0.

Masalahnya, perkembangan teknologi ini bagaikan dua sisi mata uang, satu sisi memberikan dampak positif, sisi lain memberikan berbagai tantangan dan bisa menjadi dampak negatif, ketika kita tak mampu menggunakan dengan benar dan proporsional.

Memahami indstri 4.0 adalah memahami sebuah perubahan yang di dalamnya mengandung peluang, tantangan, atau bahkan jadi ancaman.


Dari kiri ke kanan:  Bapak Dr Pribudiarta Nur Sitepu, ibu Roslina Verauli, dan bapak Dr M. Yani M.Kes



Anak dan media sosial


Tidak sulit ditemukan di sekitar kita, saat ini nyaris setiap orang sudah memegang dan menggunakan gawai untuk berbagai kepentingan, baik orang dewasa, remaja maupun anak-anak.

Menggunakan gawai, menunjukkan bahwa sudah ada penyesuaian diri dengan perkembangan teknologi. Namun ada yang dipertanyakan, apakah menggunakan gawai itu untuk hal-hal yang produktif, atau malah sebaliknya, menggunakan gawai mengganggu produktiftas?

Baik remaja maupun anak-anak, saat ini sudah trampil menggunakan media sosial sebagai bentuk interaksi mereka dengan orang lain, termasuk dengan orang tua. Ada fenomena yang sebenarnya menyedihkan, yaitu kebanyakan anak sekarang mempercayakan nyaris semua bentuk komunikasi dengan orang lain hanya melalui gadget.

Komunikasi manusiawi yang lazim dilakukan anak terhadap orang-orang yang lebih tuapun semakin surut, sehingga kerap kali anak-anak ketika diaajk bicara lisan, tidak menanggapi dan memilih asyik dengan medsos, yang alatnya berada di tangannya.

Apakah perlu ada batasan bagaimana anak dan remaja menggunakan medsosnya? jika ada, maka batasannya seperti apa? atau tak perlu ada batasan?. Faktanya, perkembangan teknologi informasi menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua, yang dituntut berpikir keras, bagaimana mendampingi anak memanfaatkan teknologi, tanpa kehilangan kendali.

Keluarga menjadi basis bagi anak untuk menyerap nilai hidup, apapun tipe keluarga kita, akan berpengaruh besar pada perspektif anak menghadapi era industri 4.0


Tipe seperti apakah keluarga kita?



Masihkah meja makan menjadi tempat menyenangkan?


Yuk coba kita lihat sebagian tantangan yang dihadapi orang tua, di era milenial ini

  • Di usia remaja, anak memang sedang mencari jati dirinya, dia ingin menjadi sosok yang berbeda, merasa sudah bisa melakukan banyak hal, dan bebas melakukannya. Pada fase inilah dituntut kepekaan orang tua, untuk menjadi kawan yang tepat bagi anaknya. Bisa mendampingi anak meniti masa remajanya, namun tidak memproteksi anak secara berlebihan.
  • Mudahnya anak sekarang mengakses internet, mudah pula bagi anak untuk menjelajahi dunia maya, menjelajahi media online dengan mudah. Saanya orang tua memberikan bantuan pada anaknya, bagaimana berinternet dengan aman, cerdas dan bagaimana cara bergaul di dunia maya.
  • Anak yang lebih banyak tahu dibanding rang tua, menyebabkan anak tidak sulit untuk mengutak atik filter, karena anak memahami teknologinya. Nah, saatnay rang tua tak boleh kalah sama anak dalam hal pengetahuan. Dengan pengetahuan dan wawasan yang memadai, maka tak ada ceritanay menjadi orang tua yang 'ketinggalan'.
  • Bebas online, nah ini tantangan yang mewajibkan rang tua untuk membuat aturan bersama anak, diskusikan bersama anak, kapan saja sebaiknya boleh menggunakan gawai, baik handphone maupun laptop, misalnya. rumuskan bersama, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.
  • Ketika serbuan informasi tak terbendung, maka tugas orang tua adalah membantu anaknya tetap bisa belajar berpikir jernih. Ajak anak memahami tentang apa yang diposting anak, bagaimana membagi postingan yang positif, bagaimana membaca, menggunakan media sosial.
  • Sesuaikan konten internet dengan usia anak, karena konsumsi anak-anak dengan konsumsi remaja, misalnya tentu berbeda. Orangtualah yang bisa memilah, memilih konten yang tepat untuk anak-anaknya

Menjadi sahabat bagi anak, merupakan kunci, agar anak merasa nyaman ketika orang tua mendampingi, karena bagaimanapun ada banyak situs yang tidak 'aman'  bagi anak. Orang tua perlu mengenal dan mengetahui mana situs yang aman dan tidak aman.

Dengan pendampingan orang tua, maka revolusi industri di era industri 4.0 akan menjadikan anak cerdas bermain medsos.

Salah satu tradisi keluarga yang strategis, dimana keluarga menjadi tempat berbagi antar anggota keluarga adalah meja makan. Disanalah keluarga bercengkerama dengan bebas, tanpa beban, menjalin kedekatan dan kasih sayang.

Menurut Psikolog Roslina Verauli, sudah saatnya gerakan kembali ke meja makan digaungkan kembali bagi keluarga-keluarga di Indonesia.

Dalam hal ini perlu disambut baik upaya pemerintah melalui BKKBN dengan pembentukan Kelompok Bina Keluarga Remaja ( BKR ).

Keluarga yang memiliki anak remaja, bisa menggunakan wadah ini untuk saling mendiskusikan permasalahan remaja. Dengan didiskusikan, maka persoalan akan lebih mudah dicarikan solusi.

Kelompok BKR ini juga memungkinkan para orang tua untuk saling belajar tentang teknologi, bertukar wawasan, agar tetap bisa mendampingi anak-anak mereka, dalam ber media sosial. Maka #revolusikeluarga4 dan #keluargaindustri4 bisa dihadapi dengan proporsional.


22 komentar:

  1. karena hampir semua orang juga sudah akrab dengan media sosial, memang baiknya mengajarkan anak untuk bijak bermedsos ya, jangan sampai melarang.

    BalasHapus
  2. Orang tua memang tetap harus memberikan batasan sejauh mana teknologi boleh dimanfaatkan anak, bagaimanapun tanggung jawab ortu untuk mencegah efek negatifnya.

    BalasHapus
  3. Setuju, dgn menjadi sahabat maka gap dgn anak jd terminimimalisasi ya mba

    BalasHapus
  4. Generasi di masa datang agar tangguh, cerdas dan berahlak mulia memang dimulai dari keluarga ya mbak 💖

    BalasHapus
  5. Saya kalau ke anak a adalah a nggak menyek2 apalagi jaim. Hahaha ortu 4.0 itu nggak boleh kuper minimal mengimbangi anak anaknya.

    BalasHapus
  6. Gak bisa dipungkiri ya bu, agak bingung² ngurus anak sekarang
    Dikasih gadget banyak negatifnya
    Gak dikasih gadget bisa gaptek nantinya
    Paling pas ya ortu harus tetap memantau

    BalasHapus
  7. Anakku usia 6 tahun aja udah tahu Facebook. Apalagi Instagram! Aduh bahaya kalau ga di awasi. Tapi semenjak dia pegang tablet seluruh isinya aku yg atur. Seperti game juga yg berlandaskan pendidikan. Lalu YouTube juga yang harus pas seusianya.

    BalasHapus
  8. Berarti pengawasan anak begitu penting ya dalam menghadapi industri 4.0 ini ya

    BalasHapus
  9. menjadi sahabat anak itu menyenangkan ya mba kita jd byk tau tentang tmn2 anak kita n bs menjalin komunikasi yg baik tentunya dengan anak

    BalasHapus
  10. Bener banget Ibu, orangtua harus bisa menjadi sahabat anak ya. Supaya ada komunikasi dan sharing anatara keluarga.

    BalasHapus
  11. Penting banget untuk menemani anak berselancat di sosial media karena mereka harua tau saring sebelum sharing

    BalasHapus
  12. Medsos dan internet bisa menjadikan anak kreatif, asalkan ortunya ikut juga ambil bagian dalam kegiatannya dan menjadi temannya

    BalasHapus
  13. Setuju jika sebagai orangtua tidak melulu jadi orang tua kadang perlu JD teman atau bahkan manfaatkan kebiasaan ank dnganm gadget untuk kita minta bantuan sehingga anak merasa berguna

    BalasHapus
  14. usia remaja memang rawan, anak mau tahu segalanya. kadang malah nyari teman curhat di luar, daripada keluarga sendiri. jadinya malah dianggap suka bikin masalah.

    BalasHapus
  15. Kalau ortu gak bisa jadi sahabat, pasti anak juga males ya cerita cerita sama. ortunya. Malah jadi hubungannya jauh dan gak asik kesannya. Hehehe. Semoga kita bisa terus belajar untuk keluarga yg kuat ya mbak

    BalasHapus
  16. Tidak bisa dipungkiri ya mba... perkembangan jaman membuat kita mengikuti semua dunia digital. Anakku jg begitu tapi dengan pemahaman orang tua anak akan mengerti untuk tetap berkomunikasi dgn orang tua, apalagi saat dimeja makan

    BalasHapus
  17. Menjadi sahabat anak, kunci banget nih agar anak mau terima apa yang orangtua omongkan. Kalau sejak dini orang tua menjaga komunikasi dengan anak, insyaallah anak menjadi lebih patuh dan menghormati orang tua.

    BalasHapus
  18. Simpel tapi benar-benar penting dan sangat berkesan untuk seluruh anggota keluarga, kadang kita menyepelehkan moment duduk bareng, makan bareng, nonton bareng sesama anggota keluarga, tapi jika dilihat dari manfaatnya, sangat banyak untuk keharmonisan keluarga.

    BalasHapus
  19. setiap ortu harus menjadi sahabat bagi anaknya.. semoga bisa terus ya mba

    BalasHapus
  20. nah, makin mudah anak memperoleh informasi berarti keluarga kudu menyiapkan pondasi yang kuat supaya siap di revolusi industri 4.0

    BalasHapus
  21. Seorang anak memang membutuhkan sebuah perhatian yang lebih dalam keluarganya agar karakter pribadinya pun terbentuk secara positif di tengah masyarakat

    BalasHapus
  22. Ini nih yg aku utamain menjadikan anak sbg sahabat dan teman.Jd asik komunikasi yg terjalin.Anak bs bebas cerita apa saja

    BalasHapus