Kamis, 05 Februari 2015

Catatan Kecil Dunia Maya

"Kok, setiap kali saya online, dia selalu tiarap?" tulisan itu muncul di status fb seorang kawan
Ada  lagi kawan yang menulis di fb demikian "Meskipun ini di dunia maya, tetapi aku bisa merasakan kalau  kamu tidak tulus berteman denganku".
Pernah ditanya seorang shabat, apakah aku kenal dan berteman dengan  X ( nama seorang penulis perempuan ), kukatakan kalau akukenal nama itu, tetapi tidak berteman, kenapa dengan dia?
"Mosok to, dia di fb kan ramah, penuh tawa, eh setelah aku in box, tidak direspon, malah dia kesal.
Dia bilang tak mau ngobrol lewat in box karena tidak kenal.



Itu baru sedikit saja saya tulis curhat kawan yang menyampaikan pengalaman  mereka tentang pertemanan di dunia maya, yang ternyata  tak seindah dan seriuh harapan dan khayalan. Asumsi bahwa dunia maya itu sama dengan dunia nyata, bisa jadi meleset, bahkan berkebalikan seratus delapanpuluh derajat, cieee.
Menyapa, berkenalan, berinteraksi lalu menjadi teman yang akarab karena saling memberikan komentar pada status masing-masing ternyata tidak cukup untuk menjadi ukuran sebuah kedekatan. sekali lagi, ini dunia maya.
Itulah jejaring sosial, sebuah dunia tak nyata yang sekarang nyaris menjadi bagian tak terpisahkan dari sebagian besar orang di mana saja.
Jejaring sosial, menurutku unik, unik karena selain bisa berinteraksi dengan beragam bentuk komunikasi dengan kawan yang jumlahnya ribuan, namun tidak semuanya saling mengenal di dunia nyata
Kita bisa menyapa, berkenalan, 'berjabat tangan' dan sebagainya tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Ya, di jejaring, kita bisa saja berinteraksi akrab dengan kawan kita, bersenda gurau riuh rendah melalui simbol-simbol huruf atau gambar,akan tetapi apakah memang demikian senyatanya? bahwa situasi yang ada sama dengan situasi di dunia maya? Kita tidak akan pernah tahu dengan pasti, bagaimanapun satu sama lain terpisah, hanya 'merasa' berhadapan

Kalau yang tampak dipermukaan adalah seperti sebuah ekspresi, ada ekspresi cinta, senang, riang, lucu sampai pada ekspresi sedih, kesal, sakit hati, kemarahan dan laiinya.
Namun apakah itu ekspresi sejati? Bisa iya bisa tidak. Bisa juga memang sedang benar-benar jatuh cinta, sedang bahagia, atau sedang sedihm sedang gundah gulana.
Bisa juga membuat postingan tertawa gembira, tetapi sebenarnya sedang gelisah, membuat postingan senang, tetapi sebenarnya sedang sedih.
Atau sekedar menerakan jempol karena itu etika pertemanan yang tak tertulis, meskipun kadang-kadang kita sedang enggan menerakan jempol, terlebih jika postingan itu tak sesuai dengan prinsip-prinspip yang kita anut.
Atau kita memang menerakan jempol karena apa yang ditulis teman itu patut mendapat jempol?

Itulah uniknya jejaring sosial, kawan yang ada dijejaring tetap tak akan bisa tahu kondisi yang sebenarnya, kecuali pada detik itu ada postingan foto, atau postingan situasi yang tengah adai.Kalau postingan tulisan yang tak menceritakan situasi saat itu, maka tak akan bisa diketahui dengan pasti.
Jejaring menjadi berarti, karena area ini menjadi alat uji bagi kita, sejauhmana kita menulis hal yang memang sebenarnya kita rasakan atau kita fikirkan.
Kenapa menjadi alat uji? karena kita bercanda bersama, tertawa, ngobrol, dengan simbol tulisan dan gambar, akan menjadi ukuran, bahwa kitapun bisa tertawa bersama, dluar jejaring.
Adakah yang mengharuskan? tentu saja tak ada, selain hati kita sendiri yang akan menjadi ukurannya.
Berharap bahwa dunia maya ini sama persis dengan situasi di dunia nyata, tentunya hanya akan membuat kecewa dan bahkan bagi orang-orang tertentu akan menimbulkan sakit hati.
Akan tetapi harapan itu tak salah, karena akan aneh dan lucu ketika di dunia maya begitu akrab, saling melempar gurauan, saling canda, ketika ketemu secara fisik bersikap saling asing, bahkan seolah-olah tak kenal. Cukup ber say hello saja.


Bagi orang-orang yang menumpahkan seluruh perasaan untuk berinteraksi, bagi orang-orang yang terbiasa apa adanya dalam bersikap, maka kesenjangan sikap antara dunia maya dan dunia nyata tentu membuat kecewa, bahkan sedih.
Namun bagi orang yang memang terbiasa easy going, mendapatkan sikap yang berlawanan atau berbeda antara di dunia maya dan di dunia nyata tentu tidak menjadi masalah yang berarti.Lalu, bagaimana baiknya? semuanya kembali kepada diri kita masing-masing, apakah dunia maya atau jejaring ini akan kita posisikan secara berseberangan,  ataukah memang dunia maya dan dunia nyata ini bagi kita sama.
Satu hal yang pasti, bahwa semesta ini sangat luas, apa yang ada pada kita hanya setitik saja, jadi buka mata dan buka hati saja selapang-lapangnya.

25 komentar:

  1. Saya justru terhibur dg adanya jejaring sosial mbak. Bergabung dg berbagai grup, menyapa melalui chatting atau berkomentar di jejaring sosial justru membuat saya makin banyak teman. Inilah yang saya cari ketika hati saya terasa sepi. Kadang hidup berpindah2 tidak membuat saya bisa nyaman, karena belum tentu sahabat di dunia nyata welcome terhadap kehadiran saya...tapi semua itu memang kembali kepada pribadi masing2, kita tidak dapat menetapkan bersahabat lewat mana yang lebih baik, dunia maya atau nyata? TFS ya mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups bener mba Yuni, semua kembali kepada kita masing-masing. hanya karena di dunia maya tidak face to face, tentunya dunia maya bisa menyembunyikan 'diri' kita lebih baik
      Makaish ya mba sudah mampir

      Hapus
  2. Tulisannya mak jlebbb jlebb bgt Mak. Patut menjadi bahan renungan. tfs

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hay mak Wid, aah, ga pake peso kok, mak jlebb, hehe.
      maturnuwun ya sudah pinarak. Aku belum sempat BW kayanya malam ini mulai deh

      Hapus
  3. Setuju mak... dunia maya memang terkadang bisa menyembunyikan kondisi sebenarnya.. Karena kita tidak terlalu kenal dg teman2 maya atau merasa perlu berhati2 menggunakan segala medsos sosial itu. Yahhh tapi tetap aja manfaatnya juga ada bagi komunikasi dan informasi yang lebih cepat ya mak..

    Tulisannya rapi banget, membuat kita merenung. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mak Haya Nufus, siip, kita harus pandai-pandai ambil manfaat yaa, agar bisa memberikan kebaikan.
      Makasih ya mak, sudah mampir,

      Hapus
  4. Memang dunia maya terkadang tak seindah dunia nyata. Tapi dari status seseorang itu kita jadi tahu karakter orangnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoi, mba Tatit, sependapat, sedikit banyak, bisa kita menilai dari apa yang ditulis di status ya
      makasih ya sudah mampir

      Hapus
  5. apa it yg dnamakan pocker face ya mbk?hehe

    bner bnget artikelnya mbk..

    BalasHapus
    Balasan
    1. mba Zaqia, waah baru dengar tuh istilah itu, mantep tuh.
      Makasih mba sudah mampir

      Hapus
  6. Dunia maya memang unik, Mbak. Banyak sekali aura yang tersebar di dalamnya, dan kembali terpulang kepada kita untuk membiarkan aura positif atau negatifnya yang menerpa dan kita serap. Saya sepakat jika jejaring sosial, pertemanan di sana tidak boleh sembrono, karena di balik device yang digunakan untuk terhubung, seorang yang di akunnya terlihat sebagai wanita cantik, bisa saja ternyata adalah seorang pria jahat yang sedang mencari mangsa, atau akun yang mengaku sebagai seorang bos, ternyata malah seorang hacker, dan banyak contoh lainnya.

    Makanya kita harus selektif dan ekstra hati-hati. Namun, terlepas dari semua itu, saya sependapat dg Mba Sri Wahyuni di atas, bahwa dunia maya, bagi saya adalah sebuah dunia indah, yang menawarkan banyak sekali kebahagiaan, keceriaan, pertemanan, simpatik dan kepedulian. Tergantung bagaimana kita mengakses dan berinteraksi dengannya.

    Trims untuk postingan kerennya, Mbak.
    Salam kenal ya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mba Alaika, makasih mba sharenya menambah wawasan buat aku. Yups, sebenarnya bagi yang jeli tentunya ini dunia yang indah, ramai dan banyak memberikan kebaikan.
      Makasih ya mba, sudah mampir

      Hapus
  7. wow...
    kontradiktif sama saya, kenal banyak orang dari dumay :)

    eh ya, tapiiiii, saya juga selektif banget milih temen, baik di fb, kompasiana, blogger dsb.
    biasanya kalo ada yang minta pertemanan saya cek list mutual friend sama info mereka.

    *bukan curhat

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas Choirul, tentu saya sepakat ya, kta ketemu banyak orang di medsos, dengan berbagai karakternya pulak, hehe
      Iyaa, cek dan re cek ya
      makasih sudah mampir ya

      Hapus
  8. Hihihi...jadi inget waktu kita ditinggal berdua di Shelter Busway Ancol ya, bengong-berjam-jam. Sahabat baru yang sudah buat janji malah lebih dulu ke tempat acara tanpa rasa tanpa pesan. Saya juga pernah alami, saat kopdar ada yg hanya memberikan ujung jari tanpa senyum saat salaman, ada juga yang menghindar takut ditegur. Tapi apa mau dikata? Lebih baik menghibur diri sendiri, anggap saja sbetulnya yang bersahabat adalah huruf-huruf kita. Jadi nggak pedih hati. Dan.. kalau ketemu yang ramah bersahabat, itu bonuuus banget!

    BalasHapus
    Balasan
    1. mba Oty, hehe, itu dia mba
      Banyak sekali cerita-cerita kecil, yang muncul dari sana. Tlisan ini ingin mengingatkan saja, bahwa sekalipun pertemanan di dumay, ya alangkah baiknya jika tetap saja dalam kebaikan dan kejujuran ya mba
      Makasih, setia berkunjung

      Hapus
  9. kalau aku, mungkin beda antara dunia maya dan nyata ya Mbak. Di dunmay, paling malas balas komen, atau sembarang menerakan jempol. lebih suka ketemu di dunia nyata. sayangnya, akhir-akhir ini sukar cari waktu yang tepat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Ren, ketemu di dubia nyata, bagaimanapun lebih seru, lebih dekat dan lebih jelas ya.
      Iya mba, kapamn-kapan masih banyak waktu, insya Allah bisa ketemuan lagi mba

      Hapus
  10. Suka bgd berselancar di dunia maya mak, sejak aktif ngeblog, keraaa bgd manfaatnya,gk hanya sekedar nambah temen, tp berbagi ilmu, pengalaman, sharingw, dan bagi rejeki (giveaway). Kalau dlu yaaa, gitu2 aja sih.
    Tfs ya mak

    BalasHapus
  11. Suka bgd berselancar di dunia maya mak, sejak aktif ngeblog, keraaa bgd manfaatnya,gk hanya sekedar nambah temen, tp berbagi ilmu, pengalaman, sharingw, dan bagi rejeki (giveaway). Kalau dlu yaaa, gitu2 aja sih.
    Tfs ya mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. mak Inda, iyaa, banyak sekali manfaat yang bisa kita ambil dari dumay mba, banyak kebaikan yang bisa dibagi dari sana mak
      Makasih ya mak sudah mampir

      Hapus
  12. bener banget mak.. dunia nyata memang tidak seindah dunia maya..
    jejaring sosial sendiri menurut saya adalah satu media luar biasa yang bisa menghubungkan banyak orang. Saya lebih memandangnya dari sisi positif, karena banyak hal positif yang bisa saya dapat dari jejaring sosial ini. Tapi semua itu tentu ada batasan, kembali ke diri kita masing-masing bgmn memfilter orang-orang yang terhubung dengan akun kita. Saya pribadi tipe orang yang oke2 aja mo di ajak share di inbox atau timeline, selagi bahan pembicaraan masih dalam koridor 'aman' versi saya. Kalau kenyamanan saya sudah terusik, mudah saja, saya akan blokir akun mereka.
    Nice article mak .. love it

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups mak Meirida, sebenarnya jejaring sosial ini sungguh luar biasa, terutama kemampuannya mengkoneksikan sekian orang.
      Saya sepakat, banyak sekali hal positiv yang bisa kita ambil dan kita bagikan melalui jejaring sosial
      Makasih ya mak sudah mampir, salam

      Hapus
  13. Seperti obrolan kita di bis, sebenarnya Ima mengalami seperti yang Ibu tulis cukup sering dan menemukan banyak orang yang "unik" seperti ini. Dulu-dulu rasanya sedih sekali, tapi sekarang saya lebih kalem aja, yang penting terus berkarya. Karena bisa jadi pada dasarnya manusia suka menilai dan terjebak pada visualnya dalam hal ini penilaian fisik ;b

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yess, Ima, Mudah-mudahan kita menjadi bagian dari mereka yang bijak mengambil manfaat di dumay ya, juga mereka yang selalu berbagi kebaikan di dumay.
      makasih ya sudah mampir, salamku

      Hapus