Sabtu, 14 Februari 2015

Sepenggal Kenangan di Sela Senja

Berbincang tentang menulis, sebenarnya  bagiku bukan sesuatu yang baru. Ibarat kata, aku kenal menulis sejak masih kanak-kanak, atau mungkin malah sejak dalam kandungan, heheh, berlebihan ya?. kenapa aku sebut sejak dalam kandungan? karena ibu dan ayahku memang memiliki kegemaran menulis, aku sebut kegemaran karena di masa aku masih bayi, tulisan mereka hanya disimpan ddan dikumpulkan saja, jadi tidak dikirim ke media massa dan mendapatkan imbalan.
Menulis tak bisa dipisahkan dengan membaca, sehingga orang yang suka menulsi bisa dipastikan dia juga suka membaca.
Di rumah orangtuaku, buku ada dimana-mana. Di almari depan, di ruang tengah, di meja makan, bahkan di kamar tidur. Meskipun ada almari besar khusus untuk menyimpan buku bacaan, namun, pemandangan penuh buku terhampar di rumah orangtuaku. Orangtuaku sangat menyukai kegiatan membaca, membaca apa saja. buku sejarah, buku seni, novel penluis-penulis terkenal dimasa itu.

Membaca, ya itu yang sangat terekam dalam ingataanku tentang kedua orang tuaku. Masih sangat kuingat, saat kanak-kanak aku menyaksikan bagaimana ke dua orangtuaku tak pernah lepas dari tulisan. Pagi hari menikmati sarapan, didepan mereka sudah ada koran, siang hari juga selalu diisi dengan membaca, bahkan sampai saat mereka berada di kamar kecilpun selalu membaca. Malam hari, dengan penerangan lampu minyak kecil di meja di sisi ranjang, juga tersedia bacaan.
Setiap malam menjelang tidur, mereka bacakan buku-buku dongeng -- waktu itu yang populer dongeng-dongeng karya HC Andersen --.
Aku tidak dipaksa belajar membaca, tetapi biasa melihat pemandangan orang yang sedang membaca, akhirnya aku juga tertarik dan suka membaca
Saat aku menjelang remaja, orang tuaku mulai mengirimkan karya mereka ke beberapa media, mereka menulis diatas mesin tulis/ mesin ketik, lalu mengirimnya melalui jasa pos.
Dari dunia kecil itulah aku mulai kenal kebiasaan menulis, karena sangat intensnya budaya membaca dan menulis di keluargaku.
Setiap pulang dari kota -- rumahku berada di desa-- oleh-oleh yang dibawa ayahku lebih banyak oleh-oleh buku dari pada oleh-oleh jajan, bahkan aku dan saudaraku kadang-kadang sampai berebut buku.
Kedua orang tuaku memiliki cara unik untuk mengenalkan kepada kami menulis untuk media massa, mereka tunjukkan terlebih dahulu, bahwa jika karya kita dimuat di media akan menghasilkan kegembiraan.

Satu saat ayahku membawa sebuah majalah anak-anak, dan ditunjukkaannya bahwa ada dongeng yang dimuat di mejalah itu dan nama penulisnya persis dengan namak, . tentu saja aku heran, kaget, takjub dan senang pastinya. Takjub sekali, karena melihat namaku tercetak disana, sampai tak jemu-jemu memandangi tulisan itu, terutama memandangi namaku, wuuuuh, serasa melayang.
Tentu saja itu bukan karyaku, itu karya ayahku yang dikirim ke majalah anak-anak itu dan ayahku menggunakan namaku sebagai penulisnya. Aku tahu, dan setelah dewasa mulai memahami maksut ayahku tersebut. Kurang lebih maksut ayahku adalah
  •  Membudayakan kebiasaan membaca, sekalipun dengan fasilitas yang terbatas, seperti penerangan yang hanya dengan lampu minyak.
  •  Mengenalkan dunia menulis pada anaknya
  • Memberikan rasa gembira melalui menciptakan karya
  • Mendorong anaknya agar mau belajar menulis dan meningkatkan minat baca, baik kuantitas maupun kualitas.
     
Saat aku beranjak remaja, aku ingat kata-kata alm ayahku :"Kewajibane bapak, itu membuat kamu dan saudara-saudaramu suka membaca, sudah berhasil, sekarang ditingkatkan sendiri kualitas buku yang kamu baca." Duuh begitu dalamnya kalimat itu, bagaimana seorang ayah membuat fondasi mental untuk anaknya.

( Sepenggal Kenangan yang Kutulis di Sela Senja )

23 komentar:

  1. Berasa manfaatnya sekarang, kalau dari kecil terbiasa membaca, ya Mbak...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mba Oty, iya, memahaminya saat kita dewasa
      Makasih mba udah mampir

      Hapus
  2. Bapak tau persis ya..jika seorang anak belajar dari apa yang dia lihat dan dia rasakan. Jadi tidak perlu memaksa, tapi mencontohkan. ..hebat.. ! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya , aku mencoba mencontoh beliau saat dekat dengan anak-anak, entah itu keponakan atau anak teman.
      Makasih, ya mba Nurul sudah berkunjung

      Hapus
  3. Sejak kecil saya juga suka banget membaca, tapi nggak pernah kepikiran utk menulis. Nggak ada di keuarga saya yg suka menulis, paling hanya suka membaca. Sekarang saya suka menulis karena awalnya ikut-ikutan teman yg suka menulis note fb.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mba Linda, saya belajar menulis juga dari orang tua, itupun saya merasa tak sehebat mereka mba
      Makaish mba sudah bekunjung

      Hapus
  4. Mba, saya membayangkan jika zaman sekarang menulis masih menggunakan mesin tik manual dan mengirimkan karya harus diposkan berhari-hari hihihi...
    Bersyukurlah sekarang kita bisa leluasa berkarya dengan fasilitas yang canggih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba Ani, mungkin gak kebayang yang ya oleh orang-orang di era digital ini.
      Tapi aku pernah menulis dengan mesin tik, beberapa kali dan dimuat di media
      Ada sensasi saat mesin tik itu berbunyi, dan inspirasi datang lebih kenceng, hehehe
      Btw ada lho yang sampai sekarang masih menggunakannya, kalau saya tak salah diantaranya bpk Harmoko mantan Menpen, juga bapak Yakob Soemardjo

      Hapus
  5. Ayah Mbak Nefertite penulis terkenal ya? Siapa namanya 😊

    dongengkasihsayang.in

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, mba Renny, tidak terkenal, tetapi dahulu kalau menulis di majalah anak-anak, malah menggunakan namaku, waktu aku kecil.
      Ibuku penulis, juga menyadur cerita dari luar, waktu itu belum ada majalah wanita selain sebuah majalah ayng diterbitkan dari Medan.
      Makasih sudah berkunjung mba

      Hapus
  6. Sama keluargaku suka membaca nurun sama kami aku juga suka menulis tapi kareba kesibukan aku sekarang jarabg menulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaah, mba, aku mau dunk kenalan sama keluargamu.
      Ayuuk nulis lagi mba, aku saja off lamaa, jadi menyesal kok hehe
      Menulis itu asyik
      Makasih ya mba udah dikunjungi

      Hapus
  7. Waktu SD saya juga suka membaca, tapi entah kenapa kebiasaan itu lama-lama hilang. Baru sekarang2 ini aja mulai membaca lagi.

    Salam kenal Mak :)

    BalasHapus
  8. Saya dari kecil juga gemar membaca mba, baca buku cerita -- bukan buku pelajaran hihi...
    Sepertinya turunan dari ibu yg gemar juga membaca, dan skrg anak sy jg hobi membaca :D
    Kl utk menulis sy msh belajar nih mba. Semangaat! :)

    BalasHapus
  9. Saya baca iya, tapi org rmh blm ada yg ketularan

    BalasHapus
  10. Huaaaa... keluarga yang manis sekali: keluarga literasi ;')

    BalasHapus
  11. Kesukaan Bunda menulis dan membaca tidak berimbang. Bunda lebih suka menulis ketimbang membaca. Tak pernah tuntas dalam membaca, kecuali untuk buku-buku yang begitu menarik, nah, baru deh semalam suntuk pun dibela-belain untuk membacanya sampai tuntas. Kesadaran muncul sendiri koq bahwa membaca itu harus dibuat seperti sebuah kebiasaan yang baik. Nice posting, Yanti.

    BalasHapus
  12. setuju sama poin yang pertama, mbak " Membudayakan kebiasaan membaca, sekalipun dengan fasilitas yang terbatas, seperti penerangan yang hanya dengan lampu minyak."

    jadi ingat cerita orangtua waktu tahun 1960-an masih belom ada listrik :)

    BalasHapus
  13. Ayah mba Yanti sama seperti bapakku. Ajarannya membuat saya cinta buku sampe sekarang

    BalasHapus
  14. kebiasaan orang tua juga menjadi contoh bagi anaknya ya...

    BalasHapus
  15. kebiasaan membaca, warisan yg berharga bangeet dr orangtua yah buu..
    kalau aku dari orangtua gak ada yg suka nulis ataupun baca kayanya *alakadarnya paling.. hehe

    BalasHapus
  16. Senangnya, punya orang tua gemar membaca dan penulis pula...
    Saya malah kecanduan baca, setelah di SD nggak bisa baca sampai kelas 2...

    BalasHapus