Minggu, 23 April 2017

Sinetron Siti Nurbaya



Hasil gambar untuk foto sinetron siti nurbaya
Sumber gambar Google

Bicara tentang sinetron yang paling disukai era 80 -90 an, banyak sih, karena sebagian sinetron di era tersebut menurutku digarap dengan apik, natural dibandingkan dengan sinetron sekarang yang cenderung berlebihan mengeksplor tokohnya.

Namun kalau harus memilih satu, aku tetap memfavoritkan sinetron yang memiliki nilai sastra, yaitu sebuah tradisi di daerah Minang. Kenapa aku favoritkan sinetron ini? banyak alasannya.

Siti Nurbaya - kasih tak sampai - sudah aku kenal mungkin sejak masih duduk di Sekolah Dasar. Melalui pelajaran bahasa Indonesia, judul novel Siti Nurbaya -- kasih tak sampai - sudah tertanam di otak aku, hehehe.

Aku menyukai pelajaran bahasa Indonesia, terutama ilmu kesusastraan, jadi novel ini dengan ceritanya yang mengharu biru, berkesan banget buat aku.

Memasuki jenjang SMP, kembali novel Siti Nurbaya - kasih tak sampai - masih menjadi salah satu novel yang sering diceritakan oleh guru bahasa Indonesia. Baru saat SMA, aku benar-benar bisa memegang novel itu, di perpustakaan sekolah, seneng banget rasanya.

Novel karya Marah Rusli ini memang membawa pembacanya pada sebuah kisah yang enak diikuti, meskipun banyak kesedihan di dalamnya.

Maka ketika sebuah stasiun televisi menayangkan sinetron ini, wow banget rasanya, antara senang dan sangat penasaran. 


Sinopsis


Dikisahkan tentang dua anak manusia Siti Nurbaya dan Samsul Bahri yang memiliki kedekatan hati, karena mereka berkawns ejak masih kanak-kanak. Siti Nurbaya yang anak gadis seorang saudagar di Padang yang bernama Baginda Sulaeman. Samsul Bahri anak seorang penghulu, yaitu Sutan Mahmud.

Sepasang anak manusia ini, saling menyatakan perasaan cintanya dan saling berjani akan bertemu lagi untuk menikah. Jani mereka ikrarkan pada saat keberangkatan samsul bahri ke kota Batavia untuk melanjutkan pendidikanya di sekolah kedokteran.

Saat itulah tragedi terjadi, mulai dari bangkrutnya usaha keluarga siti Nurbaya, yang disebabkan oleh ulah Datuk Maringgih. Datuk Maringgih tidak suka, iri melihat kekayaan Baginda Sulaeman, dan menyimpan keinginan untuk menyunting Siti Nurbaya.


Mulai dari membakar toko, membajak rekan bisnis, perahu ditenggelamkan, dan ulah lain yang akhirnya membuat usaha Baginda Sulaeman menjadi terpuruk.

Dengan dalih menolong, mulailah Datuk Maringgih meminjamkan uang kepada Baginda Sulaeman. Datuk Maringgih yang rentenir sengaja menetapkan bunga tinggi, hingga ketika usahanya jatuh, Baginda Sulaeman tak bisa membayar hutang.

Datuk Maringgih akan menuntut Baginda Sulaeman ke penjara jika tidak bisa membayar hutangnya, kecuali menyerahkan Siti Nurbaya menjadi istrinya. Demi ayahnya agar tidak dipenjara, dengan hati hancur Siti Nurbaya mengikuti syarat yang diajukan.

Siti Nurbaya berkirim surat pada kekasihnya perihal persoalan keluarganya, sehingga Samsul Bahri merasa marah. Ketika Samsul Bahri berlibur ke Padang, berhasil menemui Siti Nurbaya yang waktu itu sudah menjadi istri datuk Maringgih. 

Marahlah Datuk Maringgih, dan terlibat perkelahian, yang mengakibatkan ayah Siti Nurbaya yang sakit sakitan menjadi wafat, dan diusirnya Samsul Bahri ke Batavia. Datuk Maringgih juga mengusir Siti Nurbaya yang dianggap sudah mempermalukan.

Singkat cerita, Siti Nurbaya kemudian meninggal karena memakan lemang yang sudah dibubuhi racun oleh Datuk Maringgih. Peristiwa ini didengar pula oleh Samsul Bahri, hingga dia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya, dan memasuki dinas militer.

Samsul Bahri mencoba bunuh diri, namun selalu berhasil diselamatkan oleh orang-orang yang ada di dekatnya, begitu berulang-ulang. Keinginannya untuk mati menyusul kekasihnya tidak kesampaian.

Selang beberapa tahun, Samsul Bahri yang namanya menjadi Letnan Mas, ditugaskan ke Padang untuk mengatasi keributan yang dilakukan oleh Datuk maringgih dan anak buahnya.

Begitu bertemu di pertempuran, Samsul Bahri tidak menyia-nyiakan dendamnya, hingga dia langsung mengarahkan tembakan pada Datuk Maringgih, hingga menewaskannya. Meskipun Samsul Bahri juga terluka parah  oleh tebasan pedang Datuk Maringgih.

Menjelang wafat, Samsul Bahri minta bertemu dengan ayahnya. Diceritakannya semua hal tentang Samsul Bahri sebelum ayahnya menyadari bahwa itu adalah dirinya. 

Betapa terkejut dan menyesalnya Sutan Mahmud setelah tahu bahwa yang didepannya adalah anaknya. Menjelang wafatnya Samsul Bahri berpesan untuk dimakamkan di sebelah makan Siti Nurbaya.

Ayahnya mengabulkan permintaan Samsul Bahri, dan akhirnya bersatulah dua sejoli itu setelah menunggu sekian lamanya. Mereka bersatu setelah kembali ke alam baka.

Sesuai dengan judulnya yaitu kasih tak sampai, cerita ini memang berakhir dengan kesedihan, dengan kepiluan. 


Gambar terkait

Pemeran tokoh

Oh ya, pemeran Siti Nurbaya adalah Novia Kolopaking, sedangkan Samsul bahri diperankan oleh Gusti Randa. Penjiwaan karakter tokoh yang kuat, permainan mereka yang natural membuat sinetron ini tampil cukup menarik minat penonton.

Sementara Datuk Maringgih diperankan oleh HIM Damsyik. dan beliau memainkan peran antagonis dengan sangat bagus, hingga benar-benar 'dibenci' oleh para penonton dan pecinta sosok Siti Nurbaya.


Hasil gambar untuk sinetron siti nurbaya tvri

Inspirasi

Ada beberapa inspirasi cerita Siti Nurbaya

  • Sebuah kewajiban seorang anak untuk menjaga harkat dan martabat orang tua, walaupun harus mengorbankan perasaan cinta sejatinya.
  • Sebaliknya, kisah ini juga menjadi pengingat bahwa, perempuanpun memiliki hak untuk menentukan pasangan hidupnya.
  • Sesuai dengan judulnya Siti Nurbaya, kasih tak sampai. Yaitu tidak semua keinginan kita di dunia akan selalu terwujud.
  • Novel Siti Nurbaya terbit tahun 1922, hitung saja berapa tahun sampai saat ini, nyaris satu abad alias seratus tahun. Sebuah karya yang memiliki karakter kuat, tak akan lekang dimakan waktu. Novel Siti Nurbaya merupakan salah satu karya sastra legendaris negeri ini.

9 komentar:

  1. iya sekarang sudah tidak ada lagi sinetron yang diangkat dari novel sastra ya... kalo ada, pastinya seru deh... :) saya dulu suka nonton sinetron ini, seruuu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Siti Nurbaya di jaman sekolah lekat banget crita2nya...khas dgn pesan2 moralnya.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, kisah yang melegenda karena karakter pemain dan detail ceritanya kuat

      Hapus
  3. Iiin..aku suka banget ini Mbak. Dulu kalau ngga salah bukan hy ini aja kan ya yg diangkat ke layar kaca? Kyk y Novia sama Gusti Randa dulu sering jadi tokoh utamanya..

    BalasHapus
  4. Sinetron Siti Nurbaya di TV itu benar-benar melekat di ingatan ya.. Ceritanya memang bagus banget. Jadi pengen nonton lagi.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, ceritanya kuat dan pemainya oke

      Hapus