Rabu, 31 Agustus 2016

Budaya Sensor Mandiri dengan Meneguhkan Fungsi Keluarga.

Masyarakat yang sudah mampu menerapkan budaya sensor mandiri tentu menjadi cita-cita kita semua, karena itu sebuah kondisi ideal dimana dengan otomatis masyarakat akan melakukan sensor dan seleksi

Budaya Sensor mandiri akan membawa implikasi yang luas kepada masyarakat, karena, jika masyarakat sudah mampu menerapkan budaya sensor mandiri, maka akan meminimalisir efek negatif sebuah film.

Dengan budaya sensor mandiri masyarakat akan memiliki filter baik individu maupun secara sosial, bagaimana menjaga dirinya, menjaga keluarganya dan lingkungan di luar keluarga.

Hasil gambar untuk Lembaga sensor Film dan budaya sensor mandiri


Lembaga Sensor Film dan Budaya Sensor Mandiri

Di Indonesia, sudah ada sebuah lembaga yang memiliki tugas memberikan ijin edar film-film yang akan ditayangkan, setelah sebelumnya melakukan sensor, lembaga itu adalah Lembaga Sensor Film. 

LSF berdiri seabad yang lalu, tepatnya tahun 1916, dimana waktu itu pemerintah kolonial Belanda masih menjajah bangsa kita. Dilanjutkan tahun 1940 dibentuk panitia Pengawas film.

Kemudian tahun 1965 dengan SK Menpen No. 46/SK/M/65, yang mengatur penyelenggaraan Penyensor Film di Indonesia melalui suatu lembaga yaitu bernama Badan Sensor Film ( BSF ). Tugasnya adalah menghindarkan masyarakat dari pengaruh negati film dengan memperkuat dan membangun karakter bangsa.

Artinya, sebuah film hanya bisa beredar dan ditayangkan untuk ditonton masyarakat luas setelah diberikan ijinnya oleh LSF.

LSF juga memberikan kriteria dan kategori usia untuk film yang ditayangkan, karena tidak semua film bisa ditonton oleh segala usia.  Salah satu simbul klasifikasi bisa dilihat di layar televisi, yaitu tontonan dengan tanda BO atau Bimbingan Orangtua.

Simbol BO sebenarnya merupakan salah satu upaya LSF untuk menerapkan  budaya sensor mandiri. Persoalannya tidak semua kalangan masyarakat menangkap bahwa itu merupakan bentuk budaya sensor mandiri. Terbukti dengan masih banyak ditemukan di berbagai tempat, bagaimana orang tua menonton tayangan dewasa bersama anaknya.

Di gedung filmpun terkadang juga begitu, budaya sensor mandiri tak sepenuhnya berjalan. Lihat saja bagaimana bisa ditemukan dengan mudah, orang tua yang mengajak anaknya untuk menonton film yang tidak layak ditonton oleh seorang anak.

Hasil gambar untuk Lembaga sensor Film dan budaya sensor mandiri

Kenapa Budaya Sensor Mandiri?

Berbagai upaya LSF dalam rangka menekankan budaya sensor mandiri layak mendapatkan apresiasi karena ini adalah upaya menggugah kesadaran masyarakat untuk menjaga diri sendiri, menjaga keluargan dan lingkungan sosialnya.

Film di satu sisi merupakan refleksi dari kondisi masyarakat, namun film atau tontonan juga memiliki potensi untuk menjadi rujukan budaya masyarakat.

Kita tahu persisi jika sekarang ini, berkat kemajuan TIK, segala jenis tontonan bisa memasuki bilik-bilik keluarga. Masyarakat tidak harus bersusah payah pergi keluar dari rumah, hanya untuk menonton tayangan film. Ibarat kata, sekali klik saja kita tinggal memilih apa yang mau kita tonton.

Kemudahan mengakses tontonan, jika tidak diimbangi dengan budaya sensor mandiri akan melemahkan sendi-sendi budaya kita, karena media audio visual cenerung lebih mudah mempengaruhi audience.

Budaya sensor mandiri diperlukan, berangkat dari keprihatinan menyaksikan tontonan sekarang yang semakin lama cenderung hanya untuk kepentingan finansial semata, sehingga tidak memperhatikan lagi apakah tontonan itu layak ditonton atau tidak.

Mau tidak mau, suka tidak suka, kita berada di era global dimana tontonan yang ada dari berbagai negara dengan berbagai jenis budayanya. nah, disinilah perlunya budaya sensor mandiri agar nilai budaya negeri ini tidak tergerus.

Sebagian masyarakat juga masih mengalami gagap budaya dalam mengikuti perkembangan jaman, terutama perkembangan TIK, sehingga mengalami euforia budaya ketika menerima infomasi budaya dari luar.

Peneguhan Fungsi Keluarga

Era globalisasi dengan perkembangan TIK sudah membuat sebagian keluarga menjadi asyik dengan gadget, sehingga budaya interaksi antar anggota keluarga sudah tergeser, tergantikan oleh gadget. Disinilah perlunya budaya sensor mandiri.

Budaya sensor mandiri, sebaiknya  dimulai dari rumah, dari keluarga. Kenapa? karena keluarga adalah kelompok masyarakat terkecil. karena dari keluarga seseorang pertama kali mengenal nilai-nilai kehidupan.  

Terutama sekali, yang memiliki tanggung jawab untuk mempelopori budaya sensor mandiri adalah ibu serta ayah, yang kan meneruskan pada anak-anaknya.

Lalu langkah apa yang bisa dilakukan dalam melakukan budaya sensor mandiri?
  1. Menjalin kedekatan dalam keluarga, sehingga anak akan bertanya kepada orang tuanya tentang tontonan yang tidak dimengerti. Pada momen ini orang tua bisa mengajak anak untuk belajar berbagai hal yang berkaitan dengan budaya bangsa.
  2. Orang tua sebaiknya memberi teladan nyata pada anak, untuk mengembangkan hobi yang positif. Seperti membaca, memelihara satwa, berkebun, dan lainnya
  3. Ajarkan pada anak, mana tontonan yang bermanfaat bagi anak, mana yang tidak bermanfaat. sehingga anak bisa melakukan seleksi mandiri. Kegiatan memilih jenis film bersama anak, akan memberikan pembiasaan yang positif.
  4. Hidupkan kembali aktifitas motorik anak, seperti bermain di halaman, tamasya ke pantai, gunung.
    Agar anak tahu luasnya dunia dan beraneka ragamnya kehidupan.
  5. Sarankan anak untuk banyak-banyak berinteraksi dengan kawan sebayanya, agar waktu terisi dengan kegiatan positif
  6. Membuat jadwal bersama anak-anak, waktu-waktu yang tepat untuk menonton tayangan televisi, sekaligus memilih bersama anak film-film yang layak tonton bagi mereka,
  7. Selalu dampingi anak saat menonton tayangan film, sambil berdiskusi tentang apa yang sedang ditonton.
Jika keluarga sebagai kelompok terkecil dalam masyarakat menerapkan budaya sensor mandiri, diharapkan keluarga akan menemukan kekuatannya. Budaya sensor mandiri akan menyebar ke lingkungan masyarakat.

Meneguhkan fungsi keluarga sebagai bentuk budaya sensor mandiri, akan mampu menjadi filter bagi keluarga dan masyarakat. 

Budaya sensor mandiri akan menjadi potensi besar agar nilai-nilai kehidupan dalam keluarga dan masyarakat tidak tergerus.




5 komentar:

  1. Betul banget, mak Tite. Kembali ke kita juga ya.. mau nyensor atau enggak.

    BalasHapus
  2. Huuum bener nih, kadang udah lewat lembaga sensor film pun, filmnya masih ada yang kudu di sensor, lah ini piye :D?

    BalasHapus
  3. Ini betul banget, karena benteng terakhir sensor kemana lagi kalau bukan di rumah.

    BalasHapus
  4. Setuju banget mbak... memang kita yang harus pintar memilih tayangan yang tepat, tidak boleh bergantung pada orang lain.

    BalasHapus
  5. Kalau kami alhamdulillah memang membatasi tontonan televisi maupun film di laptop, Mbak. Saat nonton pun kami teraapkan standar yang ketat terutama bila ada adegan yang belum layak dikonsumsi anak-anak. Saya setuju, bahwa kendali sensor tak bisa dibebankan pada LSF saja, masyarakat dan keluarga sebagai satuan terkecil dan lingkungan terdekat anak harus mengambil peran aktif agar tontonan ikut berkualitas dengana filter secara mandiri. Syukur-syukur bisa memberi saran pada LSF atau produsen tayangan.

    BalasHapus